Home » » Ochi, Kakakku yang Seksi

Ochi, Kakakku yang Seksi

Posted by eko prijambodo
Kumpulan Video sex , xxx , komik , hentai,, Updated at: 04.21

Posted by eko prijambodo on Rabu, 01 Juli 2015

Namaku Fadel, sejak SMA aku tinggal berdua bersama kakak perempuanku Rosi yang biasa kupanggil kak Ochi di sebuah rumah kontrakan. Sedangkan orangtuaku tinggal di kota yang berbeda karena urusan bisnis. Saat ini aku masih kelas 2 SMA sedangkan Kak Ochi sudah kuliah semester tiga. Menurutku kak Ochi cewek yang sempurna, sudah cantik, baik lagi. Idaman semua cowok deh pokoknya, termasuk aku, adeknya, hehe..Setahuku kak Ochi sekarang sedang jomblo, soalnya dia tidak pernah bilang kalau dia sudah punya pacar lagi sejak putus dengan mantan pacarnya dulu. Soalnya kalau ada apa-apa dia biasanya sering curhat padaku, bahkan sampai ngomongin urusan kuliahnya yang tentu saja aku tidak paham.Meskipun kak Ochi sudah beberapa kali pacaran sejak dia SMA dulu, tapi setahuku dia masih perawan. Aku gak pernah periksa sih, tapi aku yakin saja kalau dia memang masih perawan. Kesehariannya kalau dia sedang ngampus atau keluar rumah pakaiannya biasanya selalu tertutup dan memakai jilbab, walau itupun kadang baju dan celananya agak ngetat juga. Tapi kalau di rumah jangan ditanya, pakaiannya sembarangan amat. Sampai-sampai aku yang adeknya sendiri jadi nafsu melihatnya. Tapi yang jadi masalah itu dia sering menggodaku dengan omongan dan ulah-ulah nakalnya.Makin hari entah kenapa aku makin terobsesi pada kakakku sendiri sampai menjadikan kakakku sendiri sebagai objek onani, lagian salah dia sendiri sih sering menggodaku. Apalagi dia seringnya pake baju minim kalau sedang di rumah, bagaimanapun aku kan laki-laki juga. Ada cewek cantik, seksi, dengan pakaian terbuka berada di dekatku mau gak mau bikin si konti jadi ikutan berontak. Sebenarnya aku cukup beruntung karena aku salah satu orang yang bisa melihat tubuh kakakku dalam balutan pakaian minim begini. Orang lainnya? yaitu teman-temanku yang sering main ke sini.Tidak heran ketika teman-temanku main ke rumah mereka selalu terkagum-kagum melihat kakakku yang hanya menggunakan celana pendek sepaha dengan kaos oblong. Sungguh beruntung mereka mendapat pemandangan segar seperti itu di rumahku. Kakakku sendiri tidak terlalu peduli dan cuek saja dengan pakaiannya itu, bahkan bersikap ramah pada mereka, meladeni obrolan juga candaan mereka. Sama sepertiku, teman-temanku yang aku dapatkan ini pikirannya sama ngeresnya denganku. Walaupun aku lebih ngeres lagi karena nafsu sama kakak sendiri.Saat ini salah satu temanku datang ke rumahku. Namanya Ucup. Katanya sih mau bikin PR bareng, tapi seperti biasa, waktu kami lebih banyak habis karena main PS doang. Selain itu dianya pasti juga sekalian cuci mata kalau datang ke rumahku.“Bro.. bagi foto kakak lo dong,” pintanya di sela-sela asik main game.“Buat apaan?”“Kayak gak tau aja lo.. ya buat bahan coli lah.. hehe.” katanya kurang ajar bicara begitu tentang kakakku.“Kampret lo.. lo minta aja sendiri kalau berani sana,”“Oke.. ntar deh gue coba, lo gak marah kan?”“Kalau dia bolehin, gue sih gak masalah.. asal lo gak jepret dia diam-diam aja.”“Tok-tok-tok!!” terdengar suara ketukan di pintu kamarku.“Dek.. ajak temannya makan dulu, nih udah kakak siapin makan.” panggil kakakku dari balik pintu.“Iya kak, bentar.” sahutku, kebetulan aku juga sudah lapar dan bosan kalah mulu main game sama si Ucup.Kami pun menghentikan permainan dulu untuk makan. Ketika keluar, aku melihat kakakku hanya menggunakan tanktop putih dan celana pendek merah muda. Duh, gak malu apa dia pake gituan. Aku yang adiknya saja sampai berdesir melihatnya, apalagi temanku ini yang orang luar. Benar saja, kulihat ke sebelahku si Ucup dengan tampang bloonnya melongo melihat penampilan kakakku, untung saja si Ucup masih bisa menguasai kondisi.“Udah makan, kak? Bareng yuk” kata Ucup basa-basi.“Belum sih.. kalian aja deh yang makan duluan,” jawab kakakku sambil masih sibuk membereskan dapur.“Bareng aja yuk kak, sini.. ntar demo loh cacingnya, hehe..”“Hmm.. iya deh,” setuju kak Ochi akhirnya ikut makan bersama kami. Aku perhatikan si Ucup ini curi-curi padang ke arah kakakku yang tepat duduk di depannya. Sialan nih kampret matanya.“Kakak yang bikin yah?” tanya Ucup.“Iya, kenapa dek? Gak enak ya?”“Enak kok, enak banget malah.. bikin nafsu.”“Bilang nafsu kok liatin kakak sih, ayo.. gak mikir yang macam-macam kan?” pancingnya. Mulai deh kakakku nakal.“Gak kok, kak, kan maksudnya nafsu makan, bukan nafsu yang lain.. duh beruntung banget yah si Fadel punya kakak cewek yang seperti kakak, jadi iri Ucup.. udah cantik, baik, bisa masak lagi, hehe..”Kak Ochi tertawa renyah mendengar godaan temanku yang cabul ini. “Hihi.. bisa aja kamu, ya udah.. kalau gitu habisin yah, jangan dibuang-buang loh makanannya.”“Sip Kak, gak perlu disuruh itu mah.”Setelah makan, kami pun melanjutkan lagi membuat PR yang belum selesai tadi. Kali ini kami mengerjakannya di ruang tengah, sambil nonton acara tv yang menayangkan pertandingan liga Indonesia yang gak mutu ini. Ya.. kutonton juga karena yang main klub dari kotaku. Kuperhatikan dari tadi kakakku sering amat mondar-mandir kesana kemari. Maksudnya apa coba? Tebar pesona? Bikin aku dan Ucup teralihkan fokus saja, bahkan sampai gak ngelihat gol barusan karena pandangan mata kami berubah fokus, malah melihat ayunan bongkahan pantat kakakku dari belakang. Akhirnya menjelang magrib barulah semua PR ini selesai, jadi lama amat selesainya gara-gara kami masih saja kebanyakan nyantainya dari pada bikin PR.“Kak, Si Ucup pulang nih..” teriakku sambil mengantar si Ucup ke depan rumah. Saat itu kak Ochi sedang berada di dalam kamar mandi.“Pamit pulang dulu, kak..” kata Ucup berteriak berpamitan.“Iya.. hati-hati yah.. jangan bosan main ke mari.” jawab kakakku juga berteriak dari dalam kamar mandi.“Eh, ngomong-ngomong... lo gak jadi minta foto ke kakak gue?” tanyaku pada si Ucup saat kami di depan rumah.“Udah kok tadi, hehe.”“Kapan emang?” tanyaku heran karena tidak mengetahuinya, diam-diam aja nih anak kampret.“Itu.. waktu gue ambil minum tadi itu lho.. hehe.”“Diam-diam aja lo ya.. sialan lo.. udah sana lo pergi.” kataku sambil mengayunkan kakiku seperti menendang ke arahnya. Dengan tertawa-tawa dianya menghindar dan pergi dari dari hadapanku.“Udah pulang temanmu, dek?” tanya kakakku dari belakang.“Udah kak, barusan.” jawabku sambil membalikkan badan.Deg, aku cukup terkejut melihat penampilan kakakku. Tubuhnya hanya dibalut handuk putih yang tidak dapat menutupi indahnya belahan dada dan pahanya. Rambutnya masih basah, dan yang lebih menggoda lagi masih ada tetes-tetes air di kulit mulusnya bahkan ada yang tampak meluncur ke belahan dadanya itu. Tentu saja anuku jadi berdiri, aku memang tidak tahan kalau melihat dirinya basah-basahan begini. Apalagi kalau dia basah-basahan karena keringatnya sendiri seperti saat habis berolah raga, jauh lebih menggoda.“Liatin apaan kamu, dek?”Duh, aku ketahuan sedang memperhatikan dirinya. “Eh.. ng.. nggak ada kok, kak.”“Hmm.. Kamu belum mandi kan? udah sana mandi, liatin kakaknya ntar aja.. kakak gak kemana-mana kok.. hihi.”“Ye.. Siapa juga yang mau liatin kakak.. ” kataku pura-pura jaim.Kakakku tidak berkomentar lagi dan diapun berlalu kembali menuju ke kamarnya. Aku masih terpana melihat sosok indah kakakku ini, sambil dia berjalan aku masih saja memperhatikan dirinya, mataku seperti tidak ingin lepas dari tubuhnya itu. Dan sepertinya Dewa mesum memang sedang berpihak padaku karena “sreet..” handuknya tiba-tiba jatuh hingga memperlihatkan tubuhnya yang telanjang itu. Celanaku menjadi makin sempit karenanya.“Duh.. dek, jangan liat!!” teriaknya manja.“Eh.. i-iya, kak, kakak sih pake handuk kecil gitu..”Diapun segera mengambil handuknya, tapi bukannya mengenakannya lagi, dia malah menenteng handuk itu dan lari telanjang bulat ke kamarnya, sungguh binal dan mengundang birahi. Jadilah makin puas mataku melihat adegan binal kakakku itu, yang selama ini di luar rumah selalu tertutup dan memakai jilbab, kini aku melihat tubuh indahnya bertelanjang bulat bahkan berlari bugil di dalam rumah. Penisku tegang sejadi-jadinya, sekilas aku melihat belahan vaginanya saat dia mengambil handuk tadi, selain itu saat berlari buah dadanya juga terlihat berayun-ayun menggoda.Aku sudah tidak tahan lagi karena aksi kakakku itu, aku segera mandi yang tentu saja juga diikuti dengan kegiatan onani membayangkan tubuh bugil kakakku yang binal. Sungguh onani yang luar biasa saat itu.Saat aku keluar dari kamar mandi, aku disambut lagi oleh kakakku yang berada di dapur. “Lama amat mandinya dek? Ngapain sih kamu? Onani?”Sial.. tebakannya tepat sasaran. Lagian ulahnya juga sih tadi yang membuat aku terpaksa onani. “Eh.. a-anu.. biasa kan, kak.. aku kan cowok normal. Kakak sih pakai telanjang tadi, hehehe..” jawabku sambil cengengesan.“Dasar, udah kakak bilang jangan lihat. Emang kamu baru pertama kali lihat cewek bugil ya, dek? hihi..”“Iya nih, Kak, makasih ya.. hehe.”“Huu.. anggap aja tadi itu rezeki kamu. Tapi kamu siram yang benar kan? awas kalau ntar lantainya lengket-lengket di kaki kakak.”Mendengar omongan kakakku itu aja aku jadi horni lagi, membayangkan kalau kaki kakakku terkena semprotan pejuku. “Iya.. udah disiram kok, kak.. cek aja kalau gak percaya.. hehe.”Tiba-tiba aku berpikir untuk membalas aksi kakakku tadi, aku penasaran juga menunjukkan penisku di depan kakakku, kira-kira bagaimana reaksinya ya.. hehe.. Memikirkan itu saja penisku kembali tegang, tentu saja langsung nyemplak di handuk yang kukenakan ini.“Dek..”“Ya, kak?”“Itu kamu bangun lagi tuh.. mikir yang jorok-jorok yah? Jangan macam-macam kamu, dek.”“Eh.. nggak kok, kak.. maaf.” Duh, terpaksa aku membatalkan aksiku. Udah kepergok duluan sih mikirin yang nggak-nggak. Lain kali saja deh kutunjukkan.“Udah sana pakai bajumu,” suruhnya lagi.“Iyaaaa,”Aku menuju kamarku, kemudian bersantai sejenak menenangkan diriku dan adik kecilku yang tadi sempat tegang. Kuisi waktu dengan mendengarkan musik, baca komik dan tidur-tiduran di atas tempat tidur. Cukup lama juga aku mengurung diri di kamar, mungkin hampir tiga jam. Merasa bosan akupun keluar kamar untuk menonton tv. Aku menemukan kakakku sedang tertidur di sofa depan tv.“Dasar.. lagi tidur tapi tv dibiarkan hidup,” gerutuku.Ketika hendak mematikan tv, mataku lagi-lagi tertuju pada tubuh kakakku yang tidur sembarangan ini. Paha putih mulusnya terpampang dengan jelasnya membuat nafsuku bangkit lagi. Jantungku berdetak kencang melihat pose tidurnya yang sembarangan itu. Entah darimana timbul keberanianku, kupelorotkan celana pendek beserta celana dalamku sehingga penisku menjuntai bebas di depan kakakku yang sedang tertidur. Akhirnya aku dapat menunjukkan penisku di hadapannya, tapi sayang dia tidak sadar.Aku semakin berani saja, kemudian aku kocok penisku sendiri di depan wajah kakakku. Sungguh gila dan teramat nekat memang, tapi aku tidak peduli lagi. Aku sudah betul-betul tidak tahan. Lama kelamaan kocokanku makin cepat dan sepertinya aku akan segera sampai. Debaran dadaku semakin cepat.“Dek!! Kamu apa-apaan sih”Aku terkejut bukan main, kakakku terbangun, mungkin terjaga karena aku yang terlalu berisik. Tapi spermaku sudah sampai di ujung penisku. Padahal niat hati tidak ingin sampai keluar di depannya. Tapi kepalang tanggung, dianya sudah terbangun dan sudah sampai sejauh ini, kakiku bahkan jadi tidak ingin mundur menjauh darinya. Akhirnya tetap kuarahkan ujung penisku ke wajahnya dan croott.. crrroott!! Spermaku menyembur bertubi-tubi dengan telaknya ke wajah kakakku yang cantik.Gila! aku membukkake kakakku sendiri. Jadilah wajah cantiknya kini berlumuran cairan putih kental milikku. Aku betul-betul puas, sangat lega karena bisa menuntaskan hasratku, ini betul-betul orgasmeku yang paling luar biasa yang aku rasakan selama ini.“Kamu apa-apan sih, deeeekkkk? Sembarangan amat.” teriaknya histeris.“Maaf, kak.. g-gak tahan,” kataku nyengir. Aku merasa bersalah juga melakukan hal ini pada kak Ochi. Sungguh perbuatanku kali ini teramat nekat. Bisa-bisanya aku menumpahkan spermaku seperti itu ke wajahnya. Tapi tadi itu betul-betul luar biasa nikmatnya.“Ihh.. belepotan gini, bau kan?!” rengeknya manja sambil mengusap ceceran spermaku itu dengan ujung jarinya. “Ya udah, kali ini kakak maafin.. tapi jangan ulangi lagi,” sambungnya.“Iya, kak.. maaf.” kataku.Kakakku hanya tersenyum kecil, aku lega melihat dia tersenyum, untung saja dia tidak marah lagi. Tapi melihatnya tersenyum dengan wajah penuh sperma itu memberikan sensasi tersendiri bagiku, membuat dadaku jadi berdebar-debar.“Ambilin tisu dong, dek.. keburu kering nih ntar peju kamu, cepetaaan.. kamu kira kakak suka apa belopotan peju kamu kayak gini?”Aku segera mengambil kotak tisu yang berada di atas meja dan memberikannya ke kakakku. Kakakku menerimanya dan mulai membersihkan wajahnya yang berlumuran peju adiknya itu.“Puas kamu? Ngecrot sembarangan aja.. ini wajah kakakmu lho, bukan tembok wc!! dasar kamu kebanyakan nonton bokep!!” katanya dengan wajah kesal sambil masih membersihkan wajahnya.“Maaf, kak..”“Iya-iya.. udah bersih belum dek wajah kakak? Ada yang tinggal nggak?” tanyanya sambil memperlihatkan wajahnya di depanku.“Itu, kak, di bawah bibir.” kataku menunjuk bawah bibirku sendiri untuk memberi petunjuk.“Hmm.. Untung gak masuk ke mulut.. udah?”“Iya, kak.. udah bersih.”“Ya udah, pakai lagi tuh celana kamu.. apalagi coba? Belum puas apa?”“Eh.. i-iya, kak.” akupun memakai celanaku lagi lalu duduk di sebelahnya.Kami terdiam beberapa saat, aku sendiri tidak tahu harus ngomong apa lagi. Aku merasa begitu canggung karena kejadian barusan. Ingin aku kembali ke kamar saat itu tapi aku juga masih ingin berada di dekat kakakku, siapa tahu akan ada kesempatan yang lebih besar.“Maaf yah, kak..” kataku mencoba membuka obrolan.“Iya.. Makanya cari pacar dooong.. masa kakak kamu yang jadi pelampiasan.. dasar.”“Habisnya kakak cantik sih.. seksi lagi.. nafsuin, ouppss!” Duh, aku keblablasan.“Hihi.. kamu ini.. dasar yah.. udah berani macam-macam ke kakak.. masih bocah ingusan juga, hihihi..”“Enak aja bocah.. siapa bilang, tadi kan kakak udah liat punyaku.. gede kan, kak? Hehe,”“Huu.. Rese kamu…” Kayaknya dia gak mau ngaku, malu mungkin. “Udahan kan, dek? Gak kepingin pejuin kakak kamu lagi kan? tidur lagi yuk..”“Tidur bareng maksudnya, kak?” tanyaku. Sebenarnya sampai saat ini sesekali aku masih tidur bareng kakakku, biasanya kalau dia ketakutan kalau lagi hujan badai. Tempat tidurnya juga cukup luas dan muat untuk dua orang.“Enak aja, ntar kamu macam-macam lagi.”“Yah.. kirain,”“Hmm.. ya udah, malam ini tidur bareng lagi, tapi ingat jangan macam-macam.”Akhirnya dia mau juga tidur bareng, sepertinya dia memang berniat menggodaku. Ya sudah.. kesempatan, rasain kamu ntar, Kak.“Iya deh, kak.. bentar pipis dulu.”“Ya udah, kakak ke kamar dulu, jangan lupa nanti semua lampu dimatikan.”“Beres, kak.”Dia pun menuju kamarnya sedangkan aku ke kamar mandi. Aku jadi berdebar-debar memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Penisku tanpa sadar ngaceng kembali, duh ngilu.***“Tok.. tok..”“Kak…”“Iya, dek, masuk aja..”Aku pun masuk ke kamarnya. Kakakku duduk bersandar di ranjang sambil membaca novel remajanya, tampak sebagian tubuhnya sudah masuk ke dalam selimut. Aku masih berdiri saja di sini.“Napa dek? Masih grogi gara-gara tadi? Hihi.. Kan udah kakak maafin..”Kubalas saja dengan senyum kecil. Akupun berjalan menuju ke ranjangnya.“Ops, tunggu bentar!!” katanya menghentikanku, apa lagi nih maunya dia.“Kamu udah cuci kaki?” tanyanya dengan nada suara menggoda, membuatku jadi gemetaran.“Udah, kak..”“Hmm.. udah cuci tangan belum?”“Udah juga”“Gosok gigi udah belum?”“Udaaaah..”“Ya udah.. boleh naik ke ranjang deh kalau gitu.. hihi.. sini dek, bobok.”Ckckck, dasar kakakku ini. Akhirnya aku naik ke atas ranjangnya dan tiduran di sampingnya yang masih asik membaca.“Tapi kamu belum minum susu kan?”“S-susu... kak?”“Iya, susu,” katanya dengan tatapan menggoda padaku. Tentu saja aku juga menatap ke arah susunya.“Kalau itu belum, kak, hehe.”“Mau?”“M-mau apa, kak?” tanyaku grogi, berharap dia menawarkan susunya padaku.“Mau kakak tabok? Jangan ngarap deh kalau itu.. week!” katanya memeletkan lidah.Sial, cuma menggodaku aja ternyata. Akupun merebahkan kepalaku dengan kesal. “Kak.. matiin dong lampunya, mana bisa tidur..” kataku beralasan agar segera bisa beraksi, padahal aku sebenarnya belum ngantuk.“Ah, kamu ini nganggu kakak baca aja.. iya-iya,” dia pun menutup bukunya dan bangkit dari ranjang untuk mematikan lampu.Degh, ternyata dia hanya memakai celana dalam saja di balik selimut itu. Dengan hanya memakai baju kaos dan celana dalam seperti itu, kak Ochi kelihatan sangat menggoda, dadaku kembali berdebar dengan kencangnya karena dirinya ini.“Napa, dek? Kan tadi siang udah sempat liat kakak bugil.. masa gini aja nafsu?”“Hehe.. maunya sih liat kakak bugil lagi,”“Week.. jangan macam-macam kamu, udah sana bobo.”“Klik,” lampu pun dimatikan dan dia pun naik ke atas ranjang, berbaring memunggungiku.Aku belum berani untuk melanjutkan macam-macam dulu saat ini, padahal tadi niatnya pengen cari-cari kesempatan, tapi dari pada aku diusir lebih baik kutunda dulu niatku. Kupaksakan juga memejamkan mata meskipun celanaku sangat sempit. Bagaimana tidak sempit, di sebelah ada kakakku yang cantik dan binal hanya memakai kancut seksi sebagai bawahannya.Tapi ternyata aku tidak bisa menahannya, dari balik selimut kupelorotkan lagi celanaku hingga peniskupun bebas. Aku kocok barangku sendiri dari balik selimut itu dengan pelan sambil menatap kakakku meskipun hanya bagian belakang tubuhnya saja. Memikirkan kalau dibalik selimut ini dia hanya memakai celana dalam dan aku sendiri tidak memakai celana makin membuat birahiku tinggi. Tapi sepelan apapun aku onani ternyata dia terusik juga.“Lagi ngapain kamu, dek? Onani lagi? Udah dibilang jangan macam-macam.. baru juga tadi kan pejuin Kakak?” katanya menghadapkan wajahnya padaku.“Eh.. m-maaf, kak.. gak tahan.”“Iya.. tapi jangan disini dong.. dasar kamu nafsu sama kakak sendiri,” meskipun bicara begitu tapi dia tidak berusaha bangkit ataupun mendorongku dari ranjangnya. Merasa diberi angin, kuteruskan saja onaniku.“Ckckck.. dikasih tau malah ngelunjak kamu,” katanya geleng-geleng kepala. “Awas kalau kamu macam-macam!!” sambungnya, diapun tiduran lagi membelakangiku, membiarkanku adiknya meneruskan aksi onaniku itu di sampingnya.Makin lama bukannya aku semakin puas tapi malah makin tersiksa, aku seperti ingin menuntaskannya lagi. Aku sibakkan selimut yang tadi menutupi bagian bawah tubuhku sehingga kini penisku terpampang bebas. Aku makin berdebar-debar, sensasi ini sungguh luar biasa, aku mengocok batang penisku yang tidak tertutup apa-apa lagi di atas ranjang kakakku dengan dianya ada disampingku. Aku tidak peduli lagi ucapannya agar tidak macam-macam. Aku bangkit dan membuka selimut yang menutupi tubuhnya. Tubuh molek indahnya kini terpampang di depanku. Mataku langsung tertuju pada pahanya yang putih mulus.Kocokanku makin cepat melihat ini semua, nafsuku sudah sampai di ubun-ubun, tapi aku masih bisa menahan untuk tidak memperkosa kakakku, bisa masalah entar.“Dek…” aku terkejut mendengarnya, ternyata dia masih terjaga meskipun saat ini matanya sedang tertutup. “Mau kakak hajar?” sambungnya tanpa mengubah posisi tidurnya.“Eh.. nggak kak, s-sorry kak,”Akupun menutupi tubuhnya lagi dengan selimut, begitupun aku juga kembali berbaring dan masuk ke selimut. Duh, gagal. Lanjutin gak yah.. tapi udah dikasih peringatan berkali-kali ini. Belum tentu kalau aku masih juga ngelunjak dia masih mau maafin. Ah, kucoba sajalah.“Kak..” panggilku.“Hmm? Apa? bobok lagi sana,”“Ngg.. Boleh meluk gak?”“Kalau meluk, meluk aja tapi jangan macam-macam,” jawabnya membolehkan.Yes, senang banget dibolehin meluk dirinya. Langsung saja kulingkarkan tanganku ke perutnya dan memeluknya dari belakang. Bagian depan tubuhku menempel ke tubuh belakangnya, dan tentu saja penisku yang masih bebas bergesekan dengan bongkahan pantatnya yang hanya dibalut kancut tipis itu.“Dek, celana kamu belum kamu pakai juga?”“Belum, kak.. gak apa yah, kak?”“Dasar.. jangan nakal tapi kamunya..”“Iya, kak.”Betul-betul kesempatan emas bagiku, aku dapat mencium harum tubuhnya itu. Tidak hanya sekedar memeluk, kesempatan itu juga kugunakan untuk meraba perut dan pinggangnya. Dia mencoba menepis tanganku ataupun menggoyangkan tubuhnya karena risih, tapi lama-kelamaan akhirnya dia capek sendiri dan membiarkan saja aksi nakal tanganku. Untuk saat ini aku tidak ingin melakukan hal yang lebih lagi, cukup ini dulu lah untuk malam ini. Seperti ini saja aku sudah beruntung banget. Akupun berusaha memejamkan mataku lagi ditengah kenyamanan ini, kali ini hingga aku benar-benar tertidur.Besoknya aku terjaga lebih cepat, itu karena tadi malam aku tidur lebih awal dari biasanya. Sekarang jam masih menunjukkan pukul lima pagi, masih terlalu pagi untuk beraktifitas bagiku. Namanya laki-laki kalau pagi-pagi gini si konti tidak bisa kompromi, apalagi ada cewek cakep alias kakakku yang cantik di sebelahku. Kuperhatikan kakakku masih tidur dengan nyenyaknya, sesekali dirinya menggeliat karena hawa pagi yang dingin. Berbeda dengan tadi malam, untuk pagi ini kayaknya aku bakal gak kuat menahannya.Masih sama-sama di dalam selimut, aku peluk dirinya lagi dari belakang, bahkan kali ini mulai berani meraba buah dadanya. Dengan kurang ajarnya kugoyangkan pinggulku sehingga penisku bergesekan dengan pantatnya di bawah sana. Beberapa kali kakakku melenguh seperti akan bangun, tapi karena tidak benar-benar bangun jadinya tetap kuteruskan aksi cabulku yang nekat ini.Makin lama aku semakin tidak tahan, kusibak lagi selimut itu. Lalu dengan nekatnya aku mengangkangi wajah kakakku dan mengocok penisku di depan wajahnya lagi, tepat di atas bibir mungilnya.“Adek!!” lagi-lagi dia terbangun di saat-saat genting seperti ini. “Kamu ini!! masa mau pejuin muka kakak lagi?”Aku tidak menghiraukan ucapannya lagi kali ini dan tetap saja mengocok penisku karena tanggung, dan crooot… crrooot!! Untuk kedua kalinya aku menyemprot wajah kakakku dengan spermaku.“Adek… nggmmhh..” dia gelagapan menerima semprotan spermaku, kali ini ada yang masuk ke mulutnya.Cairan putihku kali ini menyemprot lebih banyak dan kencang dari sebelumnya, bahkan ada yang sampai ke rambutnya. Kugeser posisiku dan mundur setelah ejakulasiku itu. Betul-betul banyak ternyata, sampai ada yang meleleh ke leher dan sprei tempat tidurnya.“Ngggmmm… adek..!!”“M-maaf, Kak..”“Kamu ini, udah kakak bilang cukup sekali kemarin aja, eh malah ngulangin.. rese kamu. Tuh lihat sampai kotor gitu kan tempat tidur kakak..!!”“Maaf deh, kak… biar Fadel yang bersihin nanti.” kataku merasa bersalah.“Dasar kerjaan kamu onani mulu.. kosong tuh dengkul. Ya sudah, udah terlanjur juga.. ambilin lagi sana tisu,”“Iya, kak.” akupun mengambil tisu yang ada di atas meja dan memberinya ke Kak Ochi. “Nggak marah lagi kan, kak?”“Mau kamu kakak marah terus?”“Hehe.. Ya enggak lah kak, terus spreinya gimana, kak? Jadi cuci?”“Hmm.. biar aja deh, ntar juga kering.. kalau gak kering juga terpaksa deh gantian kakak yang tidur di kamar kamu ntar malam.”“Makasih yah, Kak.. hehe.”“Dasar.. Dulu waktu mama ngandung kamu mama ngidam apa sih? Kok gini amat mesumnya, hihihi.. Untung semprotnya di muka kakak, coba kalau di..” dia tiba-tiba berhenti bicara.“Kalau dimana, kak?” tanyaku memancing, kulihat wajah kakakku memerah karena malu menyebutnya.“Tau sendiri lah kamu.. Udah sana mandi, ntar terlambat kamu sekolah.” Kakakku bangkit dari tempat tidur dan membuang tisu itu ke tempat sampah.“Iya, kak..”“Kamu mau sarapan apa, dek? Kakak bikin nasi goreng aja yah?” katanya sambil mengikat rambut sebahunya itu kuncir kuda.“Oke, kak..”Dia tersenyum dan meninggalkan kamar. Aku menyusulnya keluar tidak lama kemudian untuk segera mandi dan bersiap-siap ke sekolah. Sungguh beruntung aku bisa menyemprot di wajahnya sampai dua kali, aku harap masih akan ada lagi semprotan ketiga, keempat atau seterusnya. Aku penasaran apa yang akan kulakukan lagi nanti sepulang sekolah bersama kakakku yang cantik dan seksi itu.***Aku buru-buru pulang saat selesai jam sekolah. Aku sangat menantikan aksi selanjutnya bersama kakakku. Tapi ternyata aku tidak beruntung karena sepertinya Kak Ochi belum pulang dari kuliahnya. Selain itu aku juga sudah lapar banget karena belum makan siang. Katanya sih Kak Ochi bakal beliin ayam goreng untuk lauk makan siang kami, tapi udah sore gini dia belum pulang juga. Terpaksa aku hanya nonton tv sambil menahan perut yang keroncongan.Dua jam kemudian barulah ia pulang, seperti biasa ia selalu mengenakan pakaian yang tertutup lengkap dengan jilbabnya bila keluar rumah.“Duh, dek.. sorry yah, sorry.. kelaman yah nungguinnya? Udah lapar yah? Sorry banget… tadi kakak ada perlu…” ucapnya pertama kali saat masuk rumah.Sebenarnya aku kesal, tapi karena melihat wajah memelasnya itu hatiku jadi luluh. “Iya, iya..” jawabku sambil mengambil bungkusan ayam itu dari tangannya.“Jangan makan duluuuu… kakak ganti baju dulu bentar, kita bareng makannya.” katanya sambil bergegas ke kamarnya.“Iyaaaa…” jawabku lemas. Sebenarnya aku pengen ngikutin dia ke kamarnya, siapa tahu dibolehin liat dia ganti baju, hehe, tapi ternyata rasa laparku lebih kuat. Akupun ke dapur mengambil piring untuk kami berdua.Selang beberapa lama kemudian dia keluar dari kamarnya. Kali ini dia malah mengenakan kaos biru yang pas-pasan di tubuhnya dan celana pendek hitam yang mirip celana dalam. Sungguh berbeda dengan apa yang aku lihat sebelum dia masuk kamar. Yang tadinya begitu serba tertutup, kali ini begitu terbuka dan memperlihatkan lekuk tubuh indahnya.“Mau yang paha atau yang dada, dek?” tanyanya dengan memegang paha di tangan kanannya dan dada di tangan kirinya. Duh, coba aja yang ditawarkan itu paha dan dada miliknya, pasti kupilih keduanya, hehe.“Mau paha ayam atau dada ayam?” tanyanya lagi, yang sepertinya tahu apa yang sedang kupikirkan.“Eh, dada aja, kak..” jawabku akhirnya.“Nih…” katanya sambil meletakkan paha ayam ke piringku, loh kok. “Kakak pengennya dada, lebih gede… hihi.” seenaknya aja dia, trus ngapain pake nanya tadi.Aku hanya memandang kesal padanya, tapi dia cuek saja dan pergi ke ruang tengah untuk makan sambil nonton tv. Sabar...sabar… ntar kubalas kakakku ini. Kena semprot lagi baru tau rasa dia. (Agan-agan pembaca ada yang mau bantuin semprotin gak? Hehe…)Aku juga mengikutinya makan sambil nonton tv, kakakku duduk bersimpuh di bawah sedangkan aku sengaja duduk di atas sofa yang ada di belakangnya. Setidaknya dengan posisiku disini aku bisa menuntaskan dua nafsu sekaligus, nafsu makan dan nafsu birahi dengan memandangi kakakku.“Temanmu gak main kesini lagi, dek?” tanyanya disela-sela makan.“Nggak kak, kenapa emang?”“Gak ada sih, bagus soalnya karena kakak gak digoda terus, apalagi temanmu kemarin itu si Ucup, pake minta foto kakak segala.”“Ngapain juga sih kakak kasih?”“Biarin aja, cuma jepretin kakak beberapa kali doang.” jawabnya santai. Kak Ochi gak tahu apa kalau bakal dijadikan objek coli si Ucup. “Tapi, dek..” katanya melanjutkan.“Tapi apa, kak?” tanyaku penasaran.Dia tersenyum kemudian naik ke atas sofa di sebelahku. “Kemarin itu dia juga ambil foto bugil kakak lho..” katanya berbisik.Jleb!! Apa? Jadi kakakku difoto bugil sama si Ucup? berarti duluan si Ucup yang melihat tubuh bugil kakakku. Pantasan tadi waktu aku mau lihat foto kakakku yang dijepretnya kemarin dia gak mau, terus waktu pulang kemarin dia juga tampak kesenangan, begitu toh ternyata. Bakal kuhajar si Ucup itu besok. Namun aku penasaran juga bagaimana si Ucup merayu kakakku sampai kakakku mau difoto bugil oleh si Ucup. Tapi ah.. sudahlah, lagian aku sudah lihat juga walau sesaat. Tapi aku tetap tidak habis pikir kakakku mau saja difoto bugil olehnya. Mengetahui hal itu aku malah horni, membayangkan kakakku telanjang di depan orang lain yang tidak jelas seperti si Ucup itu.“Gak apa kan, dek? Cuma foto doang kok.. itupun dia maksa sih, lagian dia janji gak bakal nyebarin.”“Walaupun maksa, kok kamu mau mau aja sih, kak?” gerutuku dalam hati. “Iya, terserah deh.. curang tuh si Ucup. Dasar otak ngeres dia.” sungutku.“Sama kaya kamu.. makanya cari cewek sanaaaa,” katanya sambil mencubit pipiku dengan tangan kanannya, sehingga meninggalkan butiran nasi yang menempel di wajahku.“Duh, kak.. sakit tahu..” kataku lebay, dianya malah ketawa-ketawa saja. Tapi yang kulihat selanjutnya membuat darahku berdesir. Dia mencolek nasi yang ada dipipiku itu lalu memakannya, bahkan dia mengemut-ngemut jarinya sendiri sambil tersenyum manis menatapku. Aku jadi terpana melongo. Tapi tunggu.. mana ayamku? Sial, ternyata sudah diembatnya.“Kaaaaaaaaaak!!” teriakku histeris. Jadi ternyata dia sengaja bikin aku mupeng demi mengambil ayam milikku? Betul-betul bikin kesal. Dia betul-betul harus tanggung jawab, udah bikin aku mupeng, dianya juga ngambil ayamku.“Hihihi, makanya jangan ngeres!!” katanya berlari ke dapur sambil ketawa-ketawa. Aku hanya meremas sisa nasi di piringku yang kini tidak ada lauknya lagi, terpaksa kusudahi makanku.“Udah sana mandi, udah sore..” katanya santai seperti tidak bersalah. Dia yang sepertinya tahu kalau aku masih kesal terus saja tertawa kecil, bikin aku tambah kesal saja. Dia pun masuk ke kamarnya meninggalkanku.Awas yah, kak.. betul-betul akan kutembak lagi mukamu, batinku.Aku beneran mandi setelah itu. Meski sedang horni-horninya tapi aku tidak onani karena memang sengaja menyimpannya nanti untuk balas dendam. Selesai mandi aku pun ke kamar kakakku. Kulihat dia sedang asik di depan laptopnya.“Ngapain kamu, dek? Nempel mulu dari tadi,”“Suka-suka dong..” jawabku cuek.“Pengen coli lagi kamu? Mau nembak muka kakak lagi? Jangan ngarep ya..” Ampun deh, sering amat isi kepalaku ditebak sama dia. “Kakak lagi sibuk, jangan ganggu deh..” sambungnya.Sibuk apanya? Yang kulihat dia malah asik edit-edit foto. Tapi melihat dia yang lagi asik ngedit foto aku jadi kepikiran hal mesum, bagaimana kalau nanti aku juga mengedit fotonya, kupotong gambar kepalanya lalu kutempel ke foto cewek telanjang yang lagi disetubuhi rame-rame. Duh, ngebayanginnya aja aku jadi horni.“Iya… gak ganggu kok, kak..”Kak Ochi hanya melirikku sebentar lalu melanjutkan lagi kesibukannya itu. Akupun hanya tidur-tiduran saja di ranjangnya sambil main game di hpku, aku masih menunggu waktu yang tepat.“Haaaah.. Cape juga..” katanya sambil melemaskan badannya mengangkat tangannnya ke atas. “Eh, tumben kamu gak nganggu?” sambungnya melirik padaku.Aku hanya cengengesan saja.“Ya udah, kakak mau mandi dulu, kamu mau disini aja? Tapi jangan macam-macam yah di kamar kakak..”Dia pun keluar kamar untuk mandi. Cukup lama aku sendirian di kamarnya, dasar cewek.. mandinya lama amat. Setelah sekian lama barulah dia kembali, sekali lagi aku melihat tubuh indahnya yang basah itu hanya diselimuti handuk kecil.“Lama amat, kak?”“Emang itu urusan kamu? Suka-suka kakak dong...” jawabnya ketus, bikin kesal aja tapi tetap aja nafsuin.“Dek, kakak mau ganti baju nih..” katanya memandang ke arahku.“Terus?” kataku cuek, dia pasti bakal nyuruh aku keluar nih, pikirku.“Kamu mau milihin baju buat kakak gak dek? Pilihin deh suka-suka kamu.. anggap aja sebagai ganti rugi ayam tadi,”Jebret!! Aku terkejut mendengarnya. Aku kira tadi bakal diusir, tapi malah disuruh milihin baju untuk dia.“Eh, y-yang bener, kak?”“Iya..” jawabnya sambil tersenyum manis.Yuhu… asik, aku dibolehin milihin baju buat dia. Waktunya berfantasi ria, mana mungkin bakal kupilihkan baju yang biasa-biasa saja, akan kugunakan kesempatan ini secabul mungkin. Langsung saja kubuka lemari bajunya, saking banyak isinya aku jadi bingung sendiri. Tapi biarlah, kapan lagi bisa mengobrak-abrik isi lemari kakakku ini.“Cepetan, dek..”Dadaku jadi berdebar-debar, akhirnya aku bisa mewujudkan salah satu khayalanku. Segera kuobrak-abrik isi lemarinya tanpa peduli kalau dia akan marah.“Dasar kamu.. Sampai berantakan gitu lemari kakak.. kontrol diri, dek.. hihi,”Setelah cukup lama membuat berantakan isi lemarinya, akhirnya kupilih sepotong kemeja putih lengan panjang yang tampak transparan dan sepasang kaos kaki putih sebetis, tentu saja tanpa celana dalam ataupun bh.“Ini, dek? Dalamannya?”“Gak usah, kak.. itu aja.. mau kan, kak?”“Dasar mesum.. iya deh, ngadap sana dulu kamunya… biar surprise ntar,” pintanya.Aku pun membalikkan badanku. Sebenarnya aku kepengen melihat dia yang dari telanjang hingga mengenakan itu semua. Tapi betul juga katanya, sepertinya bakalan lebih mengejutkan kalau aku tidak melihat prosesnya. Dia melempar handuknya itu ke kepalaku, entah apalah maksudnya. Mungkin saja sebagai penanda kalau kakakku ini sudah bugil polos di belakangku. Hanya terdengar suara kresek-kresek selama beberapa saat setelah itu.“Udah, dek..” katanya tidak lama kemudian.Aku pun memutar lagi tubuhku. Dan woooow… jantungku berdebar dengan kencangnya, aku langsung panas dingin melihat pemandangan di depan mataku ini. Khayalan mesumku terwujud. Kakakku terlihat sangat seksi dan menggoda dengan pakaian yang aku pilihkan itu. Dia hanya mengenakan kemeja putih lengan panjang tanpa apa-apa lagi di baliknya. Kemeja itu tampak longgar dan cukup dalam hingga menutupi paha atasnya, hanya beberapa senti dari pangkal selangkangannya, seandainya dia duduk pasti pantat dan vaginanya akan terpampang bebas. Karena kemeja itu agak transparan, aku dapat melihat puting payudaranya yang menerawang dan juga bayangan hitam dari rambut kemaluannya. Sepasang kaos kaki putih yang melekat di kaki indahnya makin menambah kesan seksi dan imut luar biasa. Ah.. untung saja aku tidak mimisan.“Gimana, dek? Suka?” tanyanya sambil memutar tubuhnya bergaya di depanku.“Iya, kak.. s-su-suka banget..”Duh, aku betul-betul tidak tahan lagi untuk onani saat ini. Penisku menengang sejadi-jadinya dari balik celana. Kakakku hanya tersenyum melihat gelagatku.“Kenapa, dek? Pengen coli ya kamu?” Duh, kenapa sering kali dia bisa menebak isi pikiran cabulku. “Hmm.. kakak bolehin deh kali ini..” katanya lagi.“Heh? Beneran, kak? Biasanya kan kakak marah..”“Iya.. sesekali gak apa lah kasih kamu hadiah kaya gini.. hihi,”“Hehe.. kakakku ini emang yang paling baik, udah cantik, seksi lagi..” godaku yang kesenangan.“G-o-m-b-a-l!!” katanya mengeja kata itu per huruf.Aku pun segera membuka celanaku beserta kolornya, merasa tanggung aku membuka bajuku juga sehingga aku jadi telanjang bulat di depannya. Betul-betul suasana yang cabul.“Adek!! Seenaknya aja kamu bugil di kamar kakak!! Gak ada yang boleh bugil di sini selain kakak!!”“Hehe, biar lebih asik, kak.. gak apa yah, kak? Kali iniiii aja,”“Ya udah ya udah ya udah, suka-suka kamu deh, lihat… udah tegang gitu punyamu, hihihi..” katanya melirik ke penisku.Aku hanya cengengesan saja. Aku lalu duduk di tepi ranjangnya dan mulai mengocok penisku di depannya sambil mataku menjelajahi tubuhnya. Dia masih berdiri di depanku, membebaskan aku sepuas-puasnya menatap dirinya dengan pakaian seperti itu.“Semangat amat, pelan-pelan aja, dek, ntar lecet loh.. hihi. Tuh kalau kamu mau, pakai aja body lotion kakak..”“Boleh juga tuh, kak..”Dia pun mengambil botol body lotion yang ada di atas meja riasnya dan memberikannya kepadaku. “Nih..”Aku menerimanya dan melanjutkan aksiku kembali, kali ini dibantu dengan lotion darinya. Betul-betul luar biasa rasanya.“Panas ya, dek? Merah gitu mukanya..”“Hehehe.. gimana gak panas, kak, pemandangannya kayak gini…”Dia hanya tersenyum, tapi apa yang kulihat kemudian? dia membuka satu kancing kemejanya lalu melirik nakal padaku, membuat tubuhku gemetaran saking horninya. Tapi satu kancing yang terbuka belum cukup untuk melihat belahan dadanya.Seakan mengetahui pikiran mesumku, dia membuka satu lagi kancing kemejanya, lalu satunya lagi!! Kini belahan dadanya terlihat jelas. Duh, kakakku betul-betul penggoda yang jago.“Cukup segitu aja yah, dek…” katanya lalu tersenyum.Ah, padahal aku berharap kalau dia membuka seluruh kancing kemejanya, bahkan kalau bisa telanjang. Tapi ini saja cukup dan sudah membuatku tidak tahan. Aku meneruskan kocokanku sambil menjelajahi seluruh bagian tubuhnya, mulai dari wajah, leher, dada, paha hingga betisnya. Semuanya sungguh putih mulus dan terawat. Dia sendiri santai saja berdiri di depanku sambil BBM-an dengan sesekali melirik dan tersenyum manis padaku.“Kak.. pakai kacamata itu dong, pasti tambah cantik deh, hehe…” pintaku sambil menunjuk kacamata bacanya yang ada di atas meja. Sebenarnya dia gak rabun sih, tapi sesekali dia memang memakai kacamata kalau lagi lama-lama di depan laptop atau lagi baca buku, biar matanya gak sakit katanya. Kacamata itu juga modelnya biasa-biasa saja, dengan tangkai hitam tipis dan kaca persegi yang bening.“Hmm? Ini, dek?” tanyanya sambil mengangkat kacamata itu kemudian memakainya.Duh, sekarang dia tambah imut saja. Bayangkan saja, dia hanya memakai kemeja putih polos yang beberapa kancingnya terbuka tanpa bawahan dan dalaman, sepasang kaos kaki putih, dan juga kacamata. Kurang imut apa lagi coba? Siapa yang bakal tidak tahan? Makin lama kocokanku semakin cepat, kurasa aku sudah hampir sampai.“Kak…”“Hmm? Apa?” tanyanya dengan nada suara yang merdu.“Mau keluar.. Ntar keluarin dimana nih, kak?” tanyaku sambil mengocok penisku dengan cepat.“Maunya kamu?” tanyanya balik dengan lirikan menggoda, membuat aku makin tidak tahan saja.“Di muka kakak lagi boleh gak, kak? Hehe,” pintaku untung-untungan.“Dasar.. kakak udah tebak kamu bakal minta itu, hmm.. iya deh.. kali ini aja ya.. Udah mau keluar, dek?”“Iya, kak, bentar lagi nih..”Kakakku kini bersimpuh dihadapanku sambil tetap tersenyum manis, wajahnya hanya berjarak sekitar lima belas senti dari ujung penisku. Kali ini sensasi yang kurasakan sungguh luar biasa karena dia dengan suka rela dan dalam keadaan sadar memperbolehkanku untuk menyiram wajahnya dengan spermaku, bahkan matanya menatapku sambil tersenyum manis! Aku sudah tidak tahan lagi!!“Kak.. k-keluaaaarrrrr… arghhhh!!”“Crooot.. croooottt..” spermaku menyemprot dengan banyaknya ke wajahnya untuk ketiga kalinya. Bertubi-tubi spermaku mendarat ke wajah bening cantiknya itu seperti tidak akan berhenti. Karena matanya yang terlindungi kacamata membuat dia tidak perlu memejamkan matanya dan terus menatapku selama aku ejakulasi.Tidak sia-sia aku tidak onani tadi ketika mandi, jadinya aku dapat menembak lebih banyak peluru sekarang, sangat banyak dan sungguh nikmat sekali. Kukeluarkan semuanya hingga tetes terakhir, mengosongkan kantung zakarku dan memindahkan semua isinya ke wajah kakakku ini. Kini wajah kakakku yang cantik, putih dan halus jadi belepotan pejuku yang kental dan lengket.“Nggmmh.. banyak amat sih dek ngecrotnya? Bauuuuu…” protesnya dengan nada manja setelah semprotanku berakhir. Dia lepaskan kacamatanya yang juga kotor terkena pejuku.“Sorry deh, kak.. tapi kakak makin cantik aja belepotan gitu.. hehe.”“Huu… Iya iya iya, makasih pujiannya.. enak ya kamunya, udah tiga kali pejuin muka kakak,”Aku hanya cengengesan saja karena memang sungguh beruntung bisa pejuin mukanya, bahkan ternyata bisa sampai tiga kali. Dia lalu bangkit dan mengambil kotak tisu.“Sayang tuh kak, kalau langsung dibersihin..”“Hmm? Terus? Maunya kamu? Masa dibiarin aja sampai kering? Gak mau ah.. bau,”“Kalau gitu ditelan aja, kak..” kataku berani.“Haaah?!! Sembarangan.. jorok tau!! kamu kira enak apa? Nih kamu telan aja sendiri.. nih nih nih…” katanya mencolek sperma di wajahnya dengan telunjuk lalu mengarahkannya padaku.“Ah, Kak.. apaan, nggak..!!” kataku panik.Kakakku tertawa terbahak-bahak melihatku yang jijik dengan spermaku sendiri. “Hahaha.. tuh kan, kamu sendiri aja jijik, pake nyuruh kakak segala..” katanya sambil masih saja tertawa. Sialan kakakku ini.“Hmm.. Tapi dikit aja yah? Lihat nih,” sambungnya. Dia menjulurkan lidahnya dan menjilati ujung telunjuknya tadi yang ada tetesan sperma itu, kemudian memasukkan jarinya itu ke mulutnya dan mengemutnya sambil tersenyum. Tatapan matanya juga melirik ke arahku ketika melakukan itu. Gila, darahku berdesir melihatnya. Sungguh seksi dan menggoda, makin lemas aku dibuatnya.“Udah kan, dek? Puas kan?” katanya lalu membersihkan wajahnya dengan tisu.“I-iya, kak.. makasih.”“Udah sana pakai lagi baju kamu, terus bikin pe-er,” suruhnya.“Iya.. tapi bajunya kakak jangan diganti dulu ya… biarin aja,”“Kamu mau kakak tetap makai ginian?”“Iya, gak apa lah, kak.. kan cuma di dalam rumah aja, lagian cuma kita berdua aja di sini.”“Iya deh.. malam ini aja lho, dasar kamu nakal.” katanya akhirnya menuruti.Aku pun mengenakan kembali pakaianku dan keluar dari kamarnya. Sungguh pengalaman yang luar biasa. Kakakku juga ikut keluar kamar. Dia beraktifitas seperti biasa, keluyuran di dalam rumah dengan masih memakai setelan yang aku berikan tadi. Sungguh menggoda melihatnya berkeliaran di dalam rumah mengenakan pakaian seperti itu. Saat dia duduk tentu saja kemeja itu tidak dapat lagi menutupi vagina dan pantatnya, sehingga dia kelihatan kerepotan menutupi vaginanya itu dari pandanganku, baik dengan tangannya ataupun dengan merapatkan pahanya. Melihat tingkahnya itu malah bikin aku gemas.“Liat apa kamu?” tanyanya melotot kepadaku.“Liatin.. kakak, hehe.. gak usah ditutup-tutup segala, kak.”“Maunya!! Huh..” katanya seperti menolak. Tapi ternyata dia lepaskan juga tangannya. Dia akhirnya tidak berusaha menutup-nutupinya lagi. Kak Ochi pasrah saja kalau vaginanya menjadi santapan mataku setelah itu. Saat aku kedapatan olehnya melirik ke vaginanya dia malah tersenyum padaku. Bikin aku gregetan aja.Untung saja hanya aku yang melihatnya seperti itu, entah apa jadinya kalau orang lain melihat penampilan kakakku seperti sekarang. Yang selama ini di luar selalu berpakaian tertutup, kini nyaris telanjang keluyuran di dalam rumah.Tapi semesum-mesumnya pikiranku, aku belum kepikiran untuk benar-benar menyetubuhinya, itu masih sebatas khayalan sebagai bahan onaniku saja. Aku belum sampai senekat itu, aku masih waras untuk tidak berhubungan badan dengan kakak kandungku sendiri. Ini saja sudah lebih dari cukup, tapi mungkin saja suatu saat bisa terjadi. Saat ini aku nikmati saja dulu pemandangan di depanku ini. Pemandangan kakakku yang seksi dan nakal ini. Sepertinya malam ini aku akan sekali lagi pejuin dia. Sungguh melihat pemandangan indah ini membuat aku tidak tahan. Tidak mungkin aku bisa menahannya lama-lama.“Crooot… croooot…”“Adeeeeeeeeeeeeeeeeeekkkk!!!”***“Adeeeeeeeeeeeeeeeeeekkkk!!! Kena nih baju kakaaaak!!” teriak kak Ochi memekakkan telinga.“M-maaf, kak.”“Dasar kamu ih, ngecrotnya sembarangan ajah… lihat nih jadi belepotan kemana-mana gini!!” katanya mengusap kemejanya yang terkena ceceran spermaku, bahkan sampai berceceran ke pahanya yang putih mulus.“Ih, jorooookkk…” rengeknya manja. Dia lepaskan kaos kakinya dan menggunakannya untuk membersihkan pahanya dengan ekspresi jijik, lalu melemparkan kaos kaki itu ke arahku.“Ini juga kotor, malas ah kakak pake terus,” katanya dengan santai membuka sisa kancing lalu melepaskan kemeja itu dari tubuhnya. Dia juga melemparkan kemejanya itu padaku.Aku tidak percaya apa yang aku lihat, Kak Ochi Bugil! Akhirnya aku dapat melihatnya bugil lagi. Mataku tidak bisa lepas dari tubuhnya. Tubuh nakal kak Ochi kini tidak tertutup apa-apa lagi, begitu putih, mulus dan terawat. Posenya juga menggiurkan dengan paha dirapatkan dan tangan menyilang di dada seperti berusaha menutupi buah dadanya yang ranum, tapi tetap saja aku masih bisa melihat puting merah mudanya yang mancung tegak itu. Pikiranku langsung melayang kemana-mana.“Adek! Malah bengong kamunya… Cuci tuh semua!! Kamu kira apa emang?! Malah ngelamun lliatin kakak… Rese!” katanya dengan wajah dicemberutkan, membuatku tersadar dari lamunan cabulku.“Eh, i-iya, kak,” kataku terbata memungut kemeja dan kaos kakinya itu. Lagian melihat ulah dan keadaan dirinya saat ini siapa juga yang tidak bakal horni dan mikir jorok.“Ayooo…. Ngelamun apa kamu barusan? Ngayal gitu-gituan sama kakak? Iya? Iya kan? jujuuuurrrrr….,” katanya menatapku penuh selidik, membuat aku jadi grogi.“Iya, kak, upss..” duh, aku keblablasan ngomong terlalu jujur.“Rese kamu dek, udah sana bobo! Gitu-gituan sama kakaknya dalam mimpi kamu aja sana, hihi… Malam ini sampai di sini aja. Gak apa kan? udah dua kali ngecrot juga kamunya.”“Ngmmm… tapi kapan-kapan boleh lagi kan kak, kaya tadi? Hehe,” tanyaku harap-harap cabul.“Huuu… Seenaknya aja kamu ngomong, dasar!” jawabnya. Meski tidak mengiyakan tapi dia juga tidak menolak, aku anggap saja dibolehkan.“Jangan lupa tuh dicuci sampai harum lagi. Pokoknya yang bersih! Udah ah, kakak mau bobo,” ujarnya sambil berlari kecil ke kamarnya, masih dalam keadaan telanjang bulat tentunya.“Nngg… Kak….” Panggilku.“Hmm? Apa lagi, dek?” sahutnya menoleh ke arahku.“Tidur bareng?” tawarku.Dia tersenyum manis, lalu menyuruhku mendekat ke arahnya dengan isyarat telunjuk. Dengan cengar-cengir kesenangan akupun segera mendekat ke arahnya.“Jtak!!”“Aduh… aw..sshh!” Keningku dijitak olehnya, sakit.“Rasain! Sakit, dek? Hmm? Mau lagi? Udah kakak bilang udahan… sana-sana hush hush…”“Iya, iyaaaaah..”Yah… aku tidur sendiri malam ini. Ya sudahlah, lagian tadi aku sudah dua kali ngecrot, bisa mati lemas aku nanti. Kuperiksa kemeja yang tadi dipakainya. Ternyata memang banyak ceceran spermaku di sana, dan ternyata baunya memang menyengat. Terpaksa aku nyuci dulu malam-malam, daripada besok aku kena sembur olehnya.Beberapa hari berlalu, kakakku tidak pernah lagi menggodaku secara sadis seperti waktu itu. Pernah aku mencoba memintanya lagi pada kak Ochi, tapi ditolaknya. Ya.. aku tidak mau juga sampai terlalu memaksanya, termasuk mengulangi perbuatan kurang ajar menyemprot wajahnya diam-diam seperti waktu itu. Aku takut nanti hubungaan kami malah rusak. Hmm.. ambil aja positifnya, kalau keseringan onani gara-gara dia bisa-bisa makin menonjol tulang lututku ini, hehe… Meskipun begitu, dia masih seperti biasa hanya mengenakan pakaian seadanya kalau di dalam rumah, termasuk bila ada teman-temanku.Bila aku betul-betul tidak tahan melihat penampilannya, terpaksa aku hanya onani sendiri di kamar atau di kamar mandi. Sampai saat ini juga masih kak Ochi yang menjadi prioritas objek onaniku, soalnya masih belum ada yang lebih hot dari dia sih, hehe..Seperti saat sekarang ini, aku sedang onani tiduran di kamarku sambil memandang fotonya di hapeku. Foto-foto dirinya yang sudah aku edit abis sedemikian rupa pake photoshop. Ada yang seperti dia lagi megang penis, ada yang seperti sedang disetubuhi ramai-ramai dan lain-lainnya.“Adeeekk…” katanya nyelonong masuk ke kemarku tanpa mengetuk pintu. Aku terkejut bukan main sekaligus panik dipergoki olehnya sedang onani.“Ups… lagi asik yah? Sorry sorry… kakak cuma mau minta satu sms, pulsa kakak habis nih…” dia lalu mendekat dan dengan santainya mengambil ponsel dari tanganku.“Hah! Apaan nih, dek?!”Mati deh, aku belum sempat nge-close foto-foto itu.“Kamu ngebayangin kakak kaya gini?” tanyanya lagi sambil terus memperhatikan foto-foto editanku itu. Aku tidak dapat mengelak, aku bersiap-siap saja bakal kena sembur olehnya.“Rapi banget editnya, dek… kaya asli,” Heh? Dia malah memuji ternyata.“Hiiiii.. gak kebayang deh kalo betulan kaya gitu, masa kakak gituan sama orang negro sih? Digituinnya rame-rame lagi, hahaha… Dasar kamu… fantasinya ada-ada aja. Ya udah, minta satu sms bentar.”Dia tidak marah! Malah dia ketawa melihat editanku! Aku hanya terdiam di atas tempat tidurku tanpa tahu harus berbuat apa, tanganku menutup penisku yang sedang tegang-tegangnya itu. Sedangkan dia cuek saja berdiri di sebelahku sambil ngetik sms dan… makan pisang?Pikiranku langsung ngeres. Seharusnya tidak ada yang aneh melihatnya lagi makan pisang, tapi aku yang saat ini lagi horni-horninya malah menghayal yang tidak-tidak. Apalagi pakaiannya tetap minim seperti biasa, hanya mengenakan tanktop abu-abu longgar dan celana pendek ketat. Tanpa sadar aku mulai mengocok penisku lagi sambil membayangkan kalau pisang itu adalah penisku.“Nih, dek… makasih,” katanya meletakkan hapeku ke dadaku setelah selesai mengirim sms. “Asik benar kayanya kamu, dek… Napa, dek? Ada yang salah kalau kakak makan pisang? Kamu mau juga?”“M-mau, kak.” kataku kesenangan.“Nihhhh,” katanya sambil menyodorkan pisang itu ke mulutku. Yah.. aku kira dia bakal memakan ‘pisang punyaku’, ternyata malah menyodorkan pisang di tangannya itu, aku gigit dan makan juga sedikit.“Enak?” tanyanya, aku hanya senyum kecil saja. Dia lanjutkan memakan pisang itu lagi, bahkan sekarang sengaja memancing birahiku lebih lanjut dengan menjilati dan mengemutnya.“Hihi.. Napa, dek? senang banget kayanya kamu lihat kakak makan pisang, mikirin apaan sih?” godanya. Aku hanya cengengesan saja. Aku rasa dia sendiri pasti tahu apa yang aku pikirkan.“Dasar mesum, adekku ini makin gede makin porno aja… hihi,” katanya sambil mencubit hidungku.“Ya udah, lanjutin deh ngocoknya…” katanya beranjak keluar dari kamarku. Yah... kok udahan? protesku dalam hati. Tapi dia seperti tahu saja kalau aku lagi nanggung, saat hendak menutup pintu dia menoleh lagi padaku.“Dek… kalau kamu perlu bantuan kakak, kakak ada di teras belakang yah…” bisiknya sambil mengedipkan mata kirinya lalu menutup pintu kamarku, membuat darahku berdesir karenanya. Apa itu isyarat kalau aku boleh pejuin dia lagi?Yuhuuuuuu…. Jantungku jadi berdebar-debar kesenangan.Aku keluar kamar tidak lama setelah itu, aku nekat saja keluar kamar tanpa memakai dulu celanaku. Kulihat di halaman belakang dia lagi asik olahraga lompat tali. Kakakku ini memang rajin olahraga, pantas saja badannya tetap indah dan kencang. Beruntungnya aku punya kakak seperti dia, hehe…Kak Ochi tersenyum saja melihatku yang tidak pakai celana menuju ke arahnya. Tapi dia teruskan lagi olahraganya tanpa menghiraukanku. Seolah sengaja memuaskan mataku dengan menunjukkan tubuh indahnya yang sudah mulai berkeringat. Aku duduk di kursi kayu yang ada di dekatnya. Dari sini saja aku dapat mencium aroma tubuhnya yang khas, apalagi sekarang dia penuh keringat seperti ini, membuatku semakin horni karenanya.Aku mulai mengocok penisku sendiri di dekatnya. Tampak beberapa bagian tanktopnya sudah basah, dia betul-betul bermandikan keringat. Kulitnya jadi terlihat mengkilap menambah keseksiannya yang hanya dibalut pakaian minim seperti itu. Apalagi saat melompat buah dadanya berayun-rayun bebas karena dia tidak memakai bh. Duh, nafsuin banget, kakakku betul-betul menggoda basah-basahan karena keringat gini. Kalau bukan kakakku sudah aku perkosa dia dari tadi.“Haaaaahh… capek kakak dek, kamu juga capek ya, dek? Hihihi,” katanya yang melihat aku juga ikut-ikutan olahraga, olahraga tangan tepatnya.Kak Ochi duduk di lantai sambil mengibas-ngibaskan tanktopnya itu. Sesekali dia menyeka keringat di keningnya dengan tangan. Bahkan dia malah sengaja mempercikkan keringatnya itu ke arahku lalu ketawa-ketawa kecil. Bikin aku semakin gemas dan birahi saja.“Udah selesai aja, kak?” tanyaku.“Kenapa, dek? Masih belum puas lihat kakak keringat-keringatan? Bentar yah… istirahat dulu, capek… tolong ambilin minum dong, dek.. panas niiiih,” pintanya manja sambil masih sibuk menyeka keringatnya.“Iya nih kak, panas, hehe.. kalau panas dibuka aja kak bajunya,” selorohku.“Weeek… maunya kamu banget itu! Cepat sana ambiliiiin!! Ntar gak kakak terusin lagi lho,” perintahnya.“Iya kak iya, bentar,” Aku lalu pergi ke dapur untuk mengambilkannya minum.“Dek, sekalian tolong ambilin kakak handuk dong untuk lap keringat” pintanya lagi berteriak. Ku turuti saja permintaannya itu, ku pergi mengambil handuk di kamarnya.“Nih kak…” kataku menyerahkan botol pocari swe*t dan selembar handuk kecil padanya.“Makasih, deeekkk..” ujarnya ketika menerima. Dia sepertinya sangat kehausan, minuman itu sampai berleleran ke dagu dan jatuh ke dadanya, membuat tanktop yang dipakainya semakin basah.“Nih, handuknya buat kamu aja deh, dek… kayaknya kamu lebih kepanasan dibanding kakak, hihihi…” katanya sambil melempar handuk kecil itu padaku. Wah, sepertinya dia mengerti kalau aku tidak mau dia cepat-cepat mengeringkan keringatnya.“Lanjut lagi?” tanyanya dengan tatapan menggoda padaku.“B-boleh, kak, hehe…”Sambil tersenyum, dia pun bangkit dan mulai melompat lagi, memancing keringatnya untuk keluar lebih banyak dan makin membasahi tubuhnya. Aku juga memulai lagi aksi cabulku, mengocok penisku sendiri sambil menikmati pemandangan indah di depanku. Mukanya sudah memerah karena kepanasan, aku yang menyaksikannya juga jadi ikut-ikutan panas. Apalagi dia sesekali tetap melirik dan tersenyum kepadaku. Duh, penisku menegang sejadi-jadinya, rasanya penisku siap meledak kapan saja.“Tok-tok-tok,” kami dikejutkan suara ketukan pintu dari depan. Membuat kami sama-sama menghentikan aktifitas.“Kak, ada orang…” kataku pelan pada kak Ochi.“Siapa yah, dek? Kamu buka giiiih,” suruhnya.“Aku kan gak pake celana, kak. Kayaknya orang minta sumbangan deh, kak… biarin aja,” kataku.“Jangan pelit, dek… udah, biar kakak aja yang bukain,” katanya. “Hmm.. sekalian wujudkan satu lagi khayalan nakalmu tentang kakak,” sambung kak Ochi berbisik sambil mengedipkan matanya dengan nakal, membuat darahku jadi berdesir. Dia lalu menuju pintu depan, namun Kak Ochi terlebih dahulu mengambil uang lima ribuan yang ada di atas kulkas.Aku hanya mengintip saja dari sela-sela pintu belakang, rumah ini memang tidak telalu besar, dari tempatku berdiri saat ini aku bahkan bisa dengan jelas melihat keadaan ruang depan. Duh, jantungku berdebar dengan kencangnya memikirkan kakakku akan membukaan pintu pada orang yang tidak dikenal dengan pakaian sembarangan seperti itu, apalagi keadaannya begitu berantakan dengan wajah memerah dan keringat bercucuran.“Iya, bentar…” sahut kakakku. Pintu depan pun terbuka.“Sumbangan anak yatim, Non…” kata orang itu, seorang pria tua kulit gelap terbakar matahari dengan baju koko yang tampak lusuh, rambutnya juga sudah banyak tumbuh uban yang tidak bisa disembunyikan dari balik peci hitam tuanya.Kulihat ekspresi pria itu yang tampak terkejut saat melihat penampilan kakakku. Meskipun sudah berumur, tapi dia tetaplah laki-laki yang pasti juga bakal konak melihat wanita berpenampilan seperti itu di depannya. Badanku jadi panas dingin melihat kakakku sedang dipelototi begitu, oleh pria tua tidak dikenal lagi. Kini bertambah satu orang lagi yang pernah melihat penampilan kakakku yang asal-asalan selain aku dan teman-temanku.“Ini, Pak.. maaf Pak, cuma segini,” kata kak Ochi menyerahkan uang lima ribu.“Iya, Non, gak apa. Makasih banyak yah, Non… semoga rezeki non makin lancar dan non makin cantik.”“Amin…” sahut kakakku sambil tersenyum manis pada orang itu. Aku jadi konak luar biasa melihat pemandangan beauty and the beast ini. Kak Ochi, gadis muda yang cantik putih dengan pakaian terbuka sedang bersama pria tua hitam, dekil, jelek yang entah siapa.“Gak masuk dulu, Pak? Bapak pasti haus kan? Minum dulu, pak…” tawar kak Ochi.Apa-apaan sih kakakku ini, sembarangan aja ngajak orang tidak dikenal macam dia masuk ke dalam rumah.“Eh, gak usah, Non… gak usah repot-repot,” tolak Bapak itu halus.“Udah, Pak… masuk aja. Istirahat aja dulu, gak ada siapa-siapa kok di rumah.” tawar kakakku lagi.Kulihat bapak itu seperti menelan ludah mendengar omongan kakakku, khususnya saat kak Ochi bilang tidak ada siapa-siapa di rumah. Kali ini kak Ochi menarik tangan pria tua itu ke dalam. Beruntunglah pria tua itu dapat merasakan halusnya tangan kakakku ini.“I-iya deh, non, permisi…” kata pria itu berusaha sopan. Mereka lalu masuk ke dalam.“Silahkan duduk, Pak…” kata kak Ochi mempersilahkan duduk. “Mau minum apa, Pak?” tanyanya lagi.“Duh, gak usah repot-repot, non,”“Gak repot kok, pak. Panggil Ochi aja Pak, gak usah pake non segala… kalau boleh tau, nama bapak siapa?” tanya kak Ochi ramah tanpa merasa risih sedikit pun, padahal dia sedang dipelototi dari tadi.“P-panggil aja Pak Ahmad,” jawab Bapak itu grogi.“Oh… Pak Ahmad. Ya udah, Ochi buatin teh manis aja yah, pak,” kata kakakku. Bapak itu hanya angguk-angguk saja.Aku masih bersembunyi di sini, dengan dada berdebar menantikan apa yang akan terjadi selanjutnya. Kakakku lalu menuju dapur untuk membuatkan teh manis untuk mereka berdua. Kulihat mata bapak itu memandangi bongkahan pantat bulat kakakku dari belakang, dia juga tampak membetulkan celananya. Nafsunya sudah terpancing, gawat nih.Saat di dapur, Kak Ochi tersenyum ke arahku yang masih bersembunyi. Dia menempelkan telunjuk ke ujung bibirnya sebagai tanda agar aku jangan berisik, lalu mengedipkan mata kirinya padaku dengan nakal. Duh, bikin gregetan banget, makin panas dingin badanku dibuatnya.Kak Ochi kembali lagi ke depan sambil membawakan dua cangkir teh manis hangat. Ada-ada aja kakakku ini, padahal hari panas gini, tapi malah disuguhi teh hangat.“Silahkan pak, diminum tehnya…” kata kak Ochi sambil meletakan minuman di tas meja di depan bapak itu. Saat meletakkan teh itu badan kak Ochi sedikit merunduk, membuat isi dari balik tanktopnya bisa saja terlihat. Sepertinya bapak itu memang melihatnya karena dia terlihat menelan ludahnya lagi. Dia menyadari kakakku tidak pakai bh! Duh, tensi semakin tinggi dan memanas!“I-iya. Makasih, non…”“Ochi, pak, Ochi... Kan udah dibilang tadi, hihi..”“Hehe.. maaf, non, eh Ochi. Ngomong-ngomong, Ochi habis ngapain? Kok keringatan gini?” tanya Bapak itu penasaran melihat kak Ochi bermandikan keringat.“Habis olahraga, Pak, kan biar tetap sehat dan cantik.. hihi.” jawab Kak Ochi dengan wajah diimut-imutkan.“Iya, non Ochi cantik benar.”Kakakku tertawa renyah mendengar pujian bapak ini. “Hihi, makasih, Pak. Paaakk… ayo diminum dong tehnya…” Masih bisa saja kakakku ini ramah tanpa risih sedikitpun, padahal dari tadi mata bapak itu sudah kelayapan kemana-mana. Bahkan kini tidak segan lagi memandangi paha putih mulus kakakku. Hatiku merasa tidak karuan. Takut juga aku kalau kakakku sampai diapa-apakan olehnya, tapi aku juga horni melihat tingkah binal kakakku ini.Melihat Pak Ahmad tidak juga minum, Kak Ochi inisiatif duluan meminum teh manis yang masih tampak beruap itu. Jadilah tubuh kakakku makin berkeringat karenanya, sepertinya dia memang berniat menunjukkan tubuhnya yang keringatan dengan pakaian minim itu pada pak Ahmad. Tentu saja membuat Pak Ahmad makin grogi dan makin sering membetulkan celananya.“Panas ya, pak? Mau Ochi tiupin tehnya?” tawar kak Ochi, aneh-aneh aja.“Eh, gak usah, Chi..” Dia pun akhirnya meminum teh hangat itu. Bapak itu jadi ikutan berkeringat karenanya. Sebenarnya tanpa minum teh itupun bapak itu juga sudah keringatan dari tadi, pemandangan di depannya kayak gitu sih.Perasaanku makin tidak karuan saja melihat kakakku yang cantik bening lagi keringat-keringatan berdua dengan pria tua itu. Melihat pemandangan ganjil ini aku dari tadi hanya mengelus-ngelus anuku sendiri. Duh… Kak.. adekmu udah gak tahan nih, udahan dong…“Non Ochi, Bapak permisi ke kamar mandi yah…” kata pak Ahmad.“Silahkan, Pak… tuh di belakang, terus aja… udah gak tahan yah, pak?” goda kakakku sambil tersenyum manis pada bapak itu. Aku jadi geleng-geleng kepala. Binal amat kakakku ini, diperkosa baru tahu rasa dia.Bapak itu pun masuk ke kamar mandi, sedangkan kakakku masih menunggu disana. Kak Ochi lagi-lagi menoleh ke arahku dan mengedipkan matanya lagi dengan nakal. Apa yang aku lihat kemudian membuat aku berhenti bernafas, kak Ochi menanggalkan tanktopnya!! Kini dia telanjang dada disana!! Gila! Sungguh nekat. Ini sih melebihi fantasiku.Sungguh nakal kakakku ini. Apa jadinya kalau Pak Ahmad tiba-tiba keluar dari kamar mandi dan menemukan Kak Ochi sedang telanjang dada. Aku yakin pasti langsung diperkosa tuh kakakku tanpa ampun.Ternyata cukup lama juga bapak itu di kamar mandi, mungkin dia sedang menuntaskan birahinya. Bagus deh, dari pada kakakku yang jadi korban. Setelah sekian lama, gagang pintu kamar mandi tampak bergerak, dengan secepat kilat kak Ochi mengenakan kembali tanktopnya. Fiuuhh… nafasku betul-betul sesak, hampiiiiir saja. Aku kira Kak Ochi akan benar-benar telanjang dada di depan bapak itu.“Non Ochi.. bapak pamit dulu yah.. ntar keburu malam,” kata Pak Ahmad ketika kembali ke depan.“Ohh.. ya udah kalau gitu, Pak,” kata Kak Ochi sambil berdiri lalu mengantar bapak itu ke depan. Aku tidak dapat melihat mereka berdua karena kak Ochi mengantar sampai keluar rumah, ada sekitar sepuluh detik aku tidak melihat dan mendengar apapun. Aku panik dan hatiku tidak karuan. Aku sampai berpikir yang tidak-tidak.“Makasih banyak yah, non,” kata Pak Ahmad terdengar kemudian.“Iya, pak, sama-sama.” tampak Kak Ochi masuk kembali ke rumah. Pintu pun tertutup. Akhirnya berakhir juga. Aku betul-betul lega karena tidak sampai terjadi hal yang tidak diinginkan, tapi itu tadi betul-betul nekat, pake acara telanjang dada lagi. Tapi yang bikin aku penasaran itu apa yang dilakukan mereka berdua selama sepuluh detik di luar. Ah sudahlah, sepertinya tidak ada yang aneh.Aku pun keluar dari tempat persembunyianku. Aku sudah tidak kuat lagi menahannya. Setan dalam pikiranku berteriak-teriak, “Exe kak Ochi! Exe kak Ochi! Exe kak Ochi!” Segera kuhampiri Kak Ochi dan memeluknya.“Adeeeeekkkk… apaan sih, kontrol diri! Adeeeeekkk!” teriaknya sambil mendorong-dorong tubuhku.“S-sorry, kak,” Akhirnya kulepaskan pelukanku. Untung aku masih bisa kontrol diri, kalau tidak sudah ku exe dia.“Dasar kamu…. Gimana, dek? Puas? Suka gak liat pertunjukan barusan?” godanya.“I-iya, kak…” jawabku sambil mengocok penisku dengan cepat di depannya.Dia tertawa kecil melihat tingkahku yang nafsunya sudah di ubun-ubun ini. “Pengen ngecrot yah? Dah gak nahan yah, dek?” godanya melirik nakal ke arahku.“I-iya, Kak… boleh lagi yah kali ini?” pintaku memelas.“Hmm? Boleh ngapaiiin? Ngepejuin muka kakak lagi?” tanyanya dengan masih memasang wajah yang dibuat semenggoda mungkin.“Iya, kak… Plisssss… mau yah? Mau yah?” desakku.“Dasar,” Dia pun duduk bersimpuh di lantai, tepat di hadapanku. Yuhuuu… dia mau!Wajah cantiknya yang masih berkeringat menengadah ke atas memandangku, tentu saja dengan senyuman super manis andalannya itu. Sungguh menggoda dan membuatku tidak tahan. Apalagi dari atas sini aku dapat melihat buah dadanya dari sela lubang leher tanktopnya. Kukocok penisku di depan wajahnya itu. Tidak butuh waktu lama memang karena aku sudah menahannya mati-matian dari tadi.“Croooottt…. Crooooot…. Crooooot...” Pejuku muncrat-muncrat tidak karuan ke wajah kak Ochi yang masih keringatan.“Kak Ochiiiiiiiiii… Arggghhhhhh…” aku melenguh kuat karena sensasi kenikmatan yang luar biasa, soalnya dari tadi sudah kutahan-tahan, akhirnya lega juga.“Ngmmmhhhh…” Dia ikut-ikutan mengerang dengan mulut tertutup, mungkin terkejut dengan banyaknya spermaku yang tumpah di wajahnya.Aku yang mendengar lenguhannya itu makin membuatku horni, rasanya tidak ingin saja aku berhenti menyemprotkan spermaku ke wajahnya itu. Jadilah wajah kakakku makin berantakan karena pejuku. Sebuah sensasi yang luar biasa melihat keringatnya dan spermaku bercampur di wajahnya yang cantik.“Iiihhh… banyak amat giniiii,” rengeknya manja setelah ejakulasiku berhenti.“Makasih yah, kak… hehe…. Enak bener,” kataku puas.“Tisuuuuu… cepetaaaaannn…. bau nihhhhh...” teriaknya.“Iya, iyaaaahhh.” Segera aku berlari mengambil tisu dan menyerahkannya pada kak Ochi.“Ish… Please deh, dek… peju kamu itu gak bau dan gak banyak bisa gak?” katanya dengan wajah dicemberutkan, lalu membersihkan wajahnya itu yang begitu belepotan pejuku.“Hehe.. gak bisa kayanya, kak, kakak sih cantik dan seksi gini…”“Rese kamu.. gom-bal,” katanya sambil melempar tisu bekas itu ke arahku.“Udah sana pakai celanamu! kakak mau mandi, gerah banget…” katanya.“Kan seksi kak keringat-keringatan gitu, bau badan kakak juga lebih menggoda, hehe…” godaku karena masih ingin melihatnya seperti itu.“Lama-lama kan gak enak juga dek, lengket banget rasanya kulit kakak.” katanya sambil mengusap-ngusap lehernya. “Udah yah, adekkuuu,” katanya lagi sambil mengelus pipiku. “Lain kali lagi yaaaah…” sambungnya sambil tersenyum manis.Luluh deh hatiku, akhirnya aku iyakan juga. Lagian aku juga sudah keluar banyak amat barusan, sampai lututku lemas. Aku pun terduduk puas di kursi terdekat, makin lama makin luar biasa saja yang dia berikan dan tunjukkan padaku. Entah apa lagi selanjutnya. Betul-betul beruntung aku punya kakak cewek sepertinya.“Dek…” panggilnya lirih sebelum masuk ke kamar mandi.“Ya, kak?”“Mau mandi bareng?”JEDAR!! Apalagi ini!!? Sebuah penawaran yang tentunya membuat penisku kembali bangun dan bersorak gembira.“Adeeeeekkkk? Kok bengong sih? Mau nggaaaak?” tanyanya sekali lagi dengan nada merdu.“Eh, b-beneran, kak? M-ma-mau…” aku tergagap kesenangan. Siapa juga sih yang gak mau diajak mandi bareng cewek secantik kakakku.“Ber-can-da kok,” Dia menutup pintu kamar mandi.Sialan...!!!***Pagi harinya…Dengan muka ngantuk aku turun dari tempat tidurku, mengambil handuk dan bersegera mandi untuk siap-siap sekolah. Aku masih rada kesal karena kemarin kak Ochi hanya bercanda saja ngajak mandi bareng, padahal aku ngarep banget. Malam tadi aku juga lagi-lagi tidur sendiri, setidaknya diganti tidur bareng kek gitu.Saat aku keluar kamar, ternyata kak Ochi juga baru keluar dari kamarnya, dia juga sedang menenteng handuknya yang menandakan dia juga mau mandi. Kami saling pandang, sepertinya kami memikirkan hal yang sama saat itu. Kamar mandi cuma satu dan kami sama-sama ingin mandi saat ini. Yang cepat dia menang!!Segera aku berlari menuju kamar mandi secepat kilat. Dia juga tidak mau kalah dan ikut berlari mengejarku. Tentu saja aku yang menang.“Adeeeeeekkkkk!!! Kakak dulu yang mau mandiiii!!! Ngalah dong sama cewek!!” teriaknya kesal karena aku yang duluan sampai di kamar mandi.“Hahaha.. bodo!” aku banting pintu di depan wajahnya.“Reseeeeeeeeeeee!!!”Hore… puas rasanya bikin dia kesal, dia kira cuma dia yang bisa bikin kesal. Aku tertawa puas penuh kemenangan di dalam sini.“Deeeeekk!! Kakak mau kuliah iniiii… ntar telat!! Adekkk!!” teriaknya tidak henti-hentinya sambil terus menggedor-gedor pintu. Aku sih cuek saja dan mulai menanggalkan bajuku, dia kira dia doang yang takut telat.“Cepetan deh kalau gitu kamunya.. dasar,” katanya akhirnya pasrah dan mengalah. Dia memang kakak yang baik. Kasihan juga sih sebenarnya, tapi biarlah.“Cepetan… jangan pake acara coli segala kamu…” teriaknya lagi beberapa saat kemudian, cerewet amat kakakku ini. Godain ah…Aku buka pintu kamar mandi dan mengeluarkan kepalaku, tampak dia sedang duduk menunggu di ruang tengah. “Kak….” Panggilku, ekor matanya melirik ke arahku. Sepertinya dia masih kesal.“Ya? Apa?”“Kalau mau masuk, masuk aja, kak.. Kan udah lama gak mandi berdua.. hehe..” kataku untung-untungan.“Gak! ntar yang ada kakak malah mandi peju kamu! Cepetan aja mandi sana,”“Hehe.. Gak kok, kak… Janji deh gak macam-macam. Ntar kakak telat lho… Aku masih lama lho mandinya,” kataku cari-cari alasan dengan niat cabul terselubung. Dia melirikku dengan curiga sambil mengangkat alisnya, sepertinya dia tahu kalau aku memang berniat berbuat mesum padanya.“Gak!” jawabnya jutek. Wah, dia masih kesal aja. Baru juga nyelonong masuk ke kamar mandi, gimana kalau sampai nyelonong masuk ke vaginanya. Ya sudahlah gak berhasil ternyata, kututup lagi pintu kamar mandi dan melanjutkan mandiku.Hanya terjadi hal-hal biasa setelah itu, aku bersiap ke sekolah sedangkan dia bersiap ke kampus. Seperti biasa, pakaiannya selalu tertutup dan berjilbab, membuat dia terlihat sangat anggun dengan tampillan seperti itu.“Nih, dek, sarapan dulu… mamam yang banyak,”“Iya, kak….” Wah, dia tidak marah lagi. Dia memang kakakku yang paling baik deh.“Napa kamu, dek? senyum-senyum gitu liat kakak?” tanyanya heran.“Hehe.. gak apa kok, kak.”Dia juga balas senyum padaku, manisnya. “Dasar kamu,” dengan gemas dia acak-acak rambutku sampai kusut.“Kaaaakkkk… kusut lagi ini rambutku!”***Sore menjelang malam, aku bersiap untuk mandi sore. Entah kebetulan atau memang takdir, lagi-lagi kami berpapasan saat akan mandi.“Nah… sekarang kakak yang duluan,” ujarnya padaku.“Ngalah dong kak, sama yang lebih kecil,” balasku.“Kamu tuh yang harusnya ngalah sama cewek!” balas Kak Ochi tidak mau kalah.“Gak ah, kakak mandinya lama… aku mau pergi main sama teman-teman nih bentar lagi…” kataku beralasan. Rencananya memang aku mau pergi main malam mingguan bareng teman-temanku.“Kakak mandi lama? Kamu kaleee…. Yang tiap mandi ngocok mulu! Sampai cepat gitu habis sabun.. hihihi,” katanya membuka aibku.“Nah… kalau gitu-”“Apa! Ngajak mandi bareng lagi?” potongnya, tahu saja dia isi pikiranku.“Hehehe… tau aja. Mau yah, kak?”“Gak!”“Yah… mau dong, kak… ntar aku cucuin lagi deh baju-bajunya kakak…” bujukku. Dia masih diam.“Kakak cantik… ayo dong…” godaku terus. Dia melirik heran padaku, hingga akhirnya dia jadi tertawa melihat tingkahku ini.“Hihihi.. Apaan sih kamu, dek? Segitunya kepengen mandi bareng…”“Hehehe… ayo lah, kak…”“Hmm… Janji gak bakal macam-macam?” tanyanya.“Janji,”“Sumpah?”“Suer, suer, suer,”“Hihihi… dasar… Ya udah bareng, untung aja kamu adek kakak sendiri, kalau orang lain gak bakal kakak kasih.”Yuhuuu… Dia mau juga!“Senang kamu, dek? Nih… Kakak turuti lagi fantasimu… Biar puas kamu gak cuma bisa ngayal doang mandi bareng sama kakak, tapi inget… jangan macem-macem!” sambungnya lagi.“Eh, i-iya, kak… janji… gak bakal macam-macam kok," Yes, fantasi mesumku akan terwujud satu lagi. Mandi bareng dengan kakak kandungku yang super cantik. Sudah lama rasanya tidak mandi bareng dengannya, terakhir kali waktu kami masih SD kalau gak salah.“Ya udah.. ayok, dek… kita bugil-bugilan di kamar mandi.. hihihi…” ajaknya dengan senyum manis. Glek, aku menelan ludah mendengarnya. Mulai lagi dia keluarin jurus godaan maut andalannya, yang tentu saja membuat aku jadi berdebar-debar mendengar suara serta melihat ekspresi wajahnya itu.“A-ayo, kak,”“Yakin nih, dek? Ntar kita didalam telanjang-telanjangan loh? Kuat gaaak?” suaranya sungguh merdu dan menggoda saat mengucapkan itu. “Trus kita juga bakal basah-basahan…. Di dalam juga sempit kan? kuat gak kamu?” sambungnya lagi, membuat aku menelan ludahku berkali-kali. Gila, belum masuk aja aku udah tegang bukan main karenanya. Kutarik juga dia masuk ke dalam, lama amat sih, keburu muncrat duluan aku kalau kelamaan.“Aduduh, sabar dek, sabar. Pelan-pelan napa?”Kini di dalam kamar mandi sudah ada kakakku yang cantik, akhirnya. Segera aku lepaskan seluruh pakaianku hingga aku bugil lagi di depannya. Dadaku berdebar kencang, penisku tegang berdenyut-denyut. Dia sepertinya tahu kalau aku lagi mati kesenangan saat ini. Dia senyum-senyum saja melihat tingkahku.“Pintunya kakak tutup yah, dek…” katanya lalu menutup pintu kamar mandi dan menguncinya. Kemudian menoleh ke belakang melirikku sambil tersenyum, membuat aku lagi-lagi jadi menelan ludah.“Nah… sekarang kita terkurung deh di sini, cuma ada kamu dan kakak,” katanya berbisik. Gaya dan nada bicaranya itu membuat aku jadi berdebar-debar. Aku tidak tahu apa aku bisa bertahan lama di sini.“Hihihi.. napa, dek?”“G-gak apa, kak, cuma-”“Horni ya?” potongnya.“Eh, D-dikit.. hehe,”“Dikit? Kok udah tegang gitu anu-mu?” tanyanya sambil melirik penisku yang mengacung-ngacung ke arahnya. Aku hanya cengengesan saja, soalnya emang gak dikit sih, horni banget malah.“Dek… Bisa kontrol diri kan? kakak bakal telanjang di depan kamu lho ini.. kamu bebas kalau mau ngelihat, tapi gak boleh macam-macam… oke adekku?” ujarnya mengingatkan. Apa sih maunya, nyuruh gak macam-macam tapi menggodaku sampai segitunya.“I-iya, kak,” jawabku. Aku iya-iyakan saja, soalnya aku sudah tidak sabar melihat tubuh telanjangnya lagi.Dia mulai membuka pakaiannya, dimulai dari membuka ikat rambutnya sehingga rambut sebahunya tergurai indah. Lalu dia buka baju kaosnya. Yang membuat aku makin horni karena dia membukanya perlahan, sambil tersenyum manis kepadaku pula. Akhirnya bajunya terbuka dan bagian atas tubuhnya kini sudah telanjang di hadapanku. Tampak buah dadanya yang sekal menggantung dengan indahnya pada kulit dadanya yang putih, dihiasi puting merah muda yang berdiri mancung.Tidak peduli dengan aku yang begitu horni melihat keadaan dirinya, kini dia mulai membuka perlahan celana pendeknya itu sekaligus dengan celana dalamnya. Saat bagian vaginanya akan terlihat, dia melirik padaku dan tersenyum manis. Duh, sangat seksi.Dia tarik lagi ke bawah celananya perlahan-lahan, hingga celana itu jatuh menggantung di mata kakinya dan memperlihatkan vaginanya.Akhirnya kini dia telanjang polos di depanku, mataku rasanya tidak ingin beranjak darinya. Buah dadanya, vaginanya, lekuk tubuhnya, semuanya kupandangi puas-puas dari jarak sedekat ini.“Dek? Udah mandi lagi sana.. liatin kakak mulu,” katanya padaku yang masih saja asik memperhatikan tubuhnya. “Adeeeekk!! Kok bengong?”“Eh, nggak, kak..”“Ya udah mandi dong.. lama-lama telanjang ntar kita masuk angin lho.. cepetaaaaan!!”Tapi mana bisa aku konsentrasi mandi sekarang ini, melihat sosok indah telanjang bulat berada di sampingku, yang ada aku malah jadi birahi.“Lama amat kamu...” melihat aku yang dari tadi tidak bergerak diapun mengambil gayung dan menyirami tubuhku berkali kali, jadilah aku malah dimandikan kakakku.“Duh, kak.. pelan pelan, masuk hidung nih..”“Kamu sendiri yang lama, udah… biar kakak aja deh yang mandiin kamu..” katanya sambil terus mengguyurku dengan air dingin. Enak benar.“Jongkok, dek, biar bisa kakak siramin rambutnya.”Aku pun jongkok dibawahnya, dengan posisi seperti ini aku malah berada tepat di depan vaginanya yang mulus, sepertinya baru dicukur. Gila sensasinya!! Dia sepertinya tahu aku kesenangan di bawah sini, tapi dia cuek saja karena aku memang tidak ngapa-ngapain selain melihat doang. Dia lumuri rambutku dengan shampo kemudian membasuhnya lagi.“Udah, dek.. berdiri deh, sampai kapan mau di sana terus?” suruhnya, akupun berdiri.“Sabunin dong, kak…” pintaku.“Iyaaaa… ini juga mau kakak sabunin,” Dia lalu mengambil sabun dan mulai menyabuni badanku. Telapak tangannya yang sangat lembut menyentuh kulitku, betul-betul nikmat. Saat sampai menuju penisku dia menghentikan aksinya, sepertinya dia ragu untuk menyabuni bagian itu.“Napa, kak? Gede ya? Sabunin juga dong.. hehe,” pintaku mesum.“Jangan ge-er kamu ya…” dia membelai penisku! Akhirnya aku merasakan belaian tangannya di penisku, membersihkan seluruh bagian penisku dengan tangannya yang berlumuran busa sabun, termasuk buah zakar dan rambut kemaluanku, bahkan batang penisku yang lagi tegang juga dikocoknya. Gila! nikmat betul! Begitu halus telapak tangannya.“Ngghhh… kak… oohhh….” lenguhku kenikmatan.“Napa sih kamu, dek?”“Enak… lebih cepat dong kak ngocoknya…”“Hah? Malah keenakan kamu, dasar… udah ah,” katanya melepaskan tangannya dari batang penisku. Tentu saja aku kecewa, kentang soalnya. Aku berharap dia terus mengocoknya sampai muncrat.Dia ambil gayung dan mulai mengguyur tubuhku lagi. Dia cuek saja melihat adeknya ini yang begitu mupeng pada dirinya. Aku yang merasa tanggung melanjutkan mengocok penisku sendiri dengan tanganku sambil terus diguyur air olehnya.“Hei, dek, udah kakak bilang jangan macem-macem.” katanya karena melihat aksiku. Dia lalu mulai mengguyur tubuhnya sendiri.Aku hanya berdiri saja melihat dia yang basah-basahan di depanku. Penisku menegang sejadi-jadinya melihat tubuh telanjangnya yang basah itu di depanku. Rasanya ingin sekali menggenjot tubuhnya saat ini juga, tapi aku masih berusaha untuk terus menahan diri dan tidak berbuat macam-macam. Dia yang sepertinya sadar aku sedang horni berat padanya malah tersenyum-senyum kecil padaku, lalu mengedipkan matanya dengan nakal.“Aaahhh, aku tidak tahaaaaan!!” Kuterkam dirinya dan kupeluk tubuhnya yang basah itu, membuat gayung yang dipegangnya jadi terjatuh ke lantai.“Adeeeekkk!!” jeritnya terkejut karena aku yang tiba-tiba memeluknya dari belakang.“Stop.. apa-apaan sih kamu… geliii, deekk”Apa? Malah geli? Aku jadi tambah bernafsu memeluknya lebih erat.“Itu kamu gesek-gesek di bawah!! Ngeganjal banget, dek.. Adeeekkk!!” Dia ambil air di dalam bak mandi dengan tangannya dan mencipratkannya ke wajahku berkali-kali seperti dukun yang mengobati pasiennya, aku jadi gelagapan karenanya. Melihatku yang megap-megap dianya malah tertawa-tawa, padahal dia masih dalam pelukanku.“M-maaf, kak.. khilaf,” kataku akhirnya tenang tapi masih tetap memeluknya.“Kamu ini… udah kakak bilang kontrol diri..” katanya akhirnya melunak dan tidak lagi berusaha melepaskan pelukanku. “Ya udah.. cepetan..”“Cepetan apa, kak?”“Kamu udah gak tahan kan sebenarnya sampai meluk-meluk kakak? Jadi… kakak bolehin deh..”“Glek, B-boleh apa nih, kak?” tanyaku, aku penasaran apa dia bakal ngebolehin aku nyetubuhi dia.“Mikir apa kamu? Bolehin meluk kakak sampai kamu muncrat!! Itu doang..”“Ohh.. gitu ya… hehe,” Yah.. ternyata tidak, gak apa-apa deh, daripada tidak sama sekali, soalnya aku sudah gak tahan amat. Aku rebahkan kepalaku di bahunya sambil tetap memeluknya dari belakang. Mencoba meresapi rasa nyaman dan indah penuh kemesuman ini. Penisku yang sedari tadi betul-betul sudah tegang kugesek-gesekkan dengan sengaja di belahan pantatnya. Dia sepertinya menyadari aksi cabulku, tapi tetap dibolehin juga dan tidak mempermasalahkannya.“Dek.. jangan sampai nyelip masuk lho… gak lucu kan kalo kakak sampai gak perawan lagi gara-gara adek sendiri,”“Iya, kak..” aku lega dia tidak keberatan dengan aksi gesek-menggesekku, aku kini makin mempercepat tempo goyangan pinggulku.“Kak?”“Hmm? Apa?”“Nggmm… boleh pegang.. ngmmm… susu kakak?” tanyaku takut-takut.“Susu kakak? Dasar.. Makin ngelunjak aja kamu. Ya udah.. tapi pelan-pelan aja kalau mau ngeremas, jangan kencang-kencang,”“I-iya… Makasih kakak sayang..” kataku kesenangan hingga dadaku berdebar, dia hanya tersenyum saja. Kuyakin dia mengetahui debaran jantungku yang makin kencang saja. Walau sudah dibolehkan, ternyata tanganku gemetaran juga untuk menggapai buah dadanya, itu karena kali ini aku akan meremasnya langsung tanpa tertutup kaos seperti waktu itu. Apalagi kini kami sedang berbugil ria di dalam kamar mandi yang sempit, basah-basahan lagi.“Hihi.. gugup yah, dek? Nih…” dia mengambil tangan kananku dan meletakkannya ke buah dadanya!! Gila, begitu lembut, kenyal dan pas di tangan. Aku goyangkan lagi pinggulku, kali ini sambil tangan kananku meremas buah dadanya sedangkan tangan kiriku tetap memeluk pinggangnya yang ramping. Kalau dilihat di cermin kami terlihat seperti sedang bersetubuh. Kakakku juga ikut-ikutan melihat ke cermin dan tersenyum manis padaku melalui cermin, mana tahan!“Dek.. ntar kamu mau keluarin dimana? Di muka kakak lagi?” tanyanya memandangku melalui cermin.“Hmm.. enaknya dimana yah, kak? Hehe,”“Terserah kamu dong.. kamu punya khayalan muncrat di mulut kakak gak, dek? pengen coba?”Ctar!! Boom! Bastis! Rasanya aku mau meledak saja mendengar penawarannya itu. Siapa juga yang tahan mendengar penawaran seperti itu dari seorang gadis cantik sepertinya, dan siapa juga yang bakal nolak. Soalnya waktu onani aku memang sering ngayal muncrat di mulutnya, aku tidak menyangka akan jadi kenyataan. Tapi tunggu dulu, jangan-jangan dia cuma menggoda lagi.“Serius ini, kak?” tanyaku menatap curiga padanya.“Hahaha… tenang aja dek, kakak gak becanda kok… Hmmm… tapi gak kakak telan yah? Dan cuma sekali ini aja,”“I-iya, kak, gak papa.” Gila! aku kesenangan bukan main, ini akan menjadi salah satu hari yang tidak akan pernah aku lupakan.Aku teruskan aksiku, menggesek-gesekkan penisku yang tegang ke belahan pantatnya. Kini aku juga mulai menyelipkannya di antara pangkal pahanya yang membuat batang penisku jadi bergesekan dengan permukaan vaginanya. Dia berkali-kali kaget dan melirikku melalui cermin karena beberapa kali penisku hampir masuk menyelip ke vaginanya. Namun karena tidak benar-benar masuk, dia tidak mempermasalahkannya lagi dan membiarkan saja aku tetap menikmati permainanku ini padanya. Tanganku juga makin lama makin kencang saja meremas buah dadanya hingga dia mulai merintih-rintih, tapi kulihat dia tidak berusaha menolak dan tetap memperbolehkan aksiku itu padanya. Mungkin dia juga merasa keenakan. Suara rintihannya terdengar sangat indah dan merdu di telingaku, membuat aku semakin tidak tahan.“Kak.. mau keluar...”“Hmm? Ya udah, lepasin dong pelukannya.. katanya mau keluarin di mulut kakak ..”“I-iya, kak..” aku lepaskan pelukanku dari tubuhnya.Kini dia bersimpuh di bawahku dan membuka mulutnya lebar-lebar. Kuarahkan penisku ke depan mulutnya yang menganga. Sungguh pemandangan yang membuat darahku berdesir, kakakku yang cantik sedang telanjang bersimpuh di bawahku dan siap sedia memperbolehkan aku untuk ejakulasi di mulutnya. Kupercepat kocokan penisku dengan tanganku sendiri, kepala penisku sudah berada dibibirnya dan siap memenuhi rongga mulut kakakku dengan pejuku.“Kak… keluaaaarrrr.. arrggghhhh..” lenguhku kenikmatan.“Croooot… crooott...” Spermaku meluncur dengan derasnya ke dalam mulutnya, bertubi-tubi menghantam langit-langit mulutnya. Saat menerima tembakan laharku matanya selalu menatap mataku sambil berusaha tersenyum, membuat aku makin kelojotan dan rasanya tidak ingin berhenti memenuhi rongga mulutnya dengan pejuku.“Argghhh.. kaaaakkk… enak,” erangku kenikmatan hingga tubuhku bergelinjang.Akhirnya semprotan itu berhenti. Kulihat sungguh banyak cairan itu memenuhi rongga mulutnya. Spermaku juga sampai berlumuran di sekitar area kumis dan dagunya. Puas menunjukkan spermaku yang ada di mulutnya, akhirnya dia tumpahkan sperma itu ke lantai tidak lama kemudian.“Huekkk.. bau dek peju kamu, trus banyak lagi.. Hiii.. untung gak ketelen,” katanya dengan wajah menunjukkan kejijikan, aku tertawa cengengesan saja melihat tingkahnya itu.“Hehehe.. sorry, kak,”“Ya udah.. puas kan? udah plong kan?”“Iya.. hehe,”“Ya udah sana, jangan macam-macam lagi. Kamu udah selesaikan mandinya? Kakak masih belum ini..”“Gak apa nih kak, ditinggal sendiri?”“Iya.. bagus malah, ntar kamu macem-macem lagi… udah sanaaaa,” katanya mendorongku. Akupun membuka pintu hendak keluar. “Bentar, dek.. nanti tolong bawain kakak handuk yah habis kamu pake baju, jatuh tadi waktu ngejar kamu. Trus tolongin sekalian bawain nih baju kotor kakak,” katanya memberikan pakaian kotornya padaku.“Iya, iya..”“Dugh,” pintu pun tertutup.Aku langsung menuju kamarku untuk berpakaian. Sungguh luar biasa apa yang aku alami barusan. Bisa menembakkan isi pelerku ke dalam mulut kakakku yang cantik tapi nakal itu. Entah apa yang akan terjadi selanjutnya. Sebelumnya cuma di muka, sekarang di mulutnya, selanjutnya? Entahlah.“Tok-tok-tok,” selang beberapa lama terdengar suara ketukan dari pintu depan.Ternyata teman-temanku sudah datang, cepat amat. Segera aku keluar setelah berpakaian dan membukakan pintu, tampaklah wajah-wajah buruk rupa milik temanku ini, si Ucup, Toni, Yanto dan Bono. Kami pun asik mengobrol di ruang depan. Sedang asik-asiknya ngobrol tiba-tiba si Bono berteriak sambil menunjuk sesuatu di belakangku.“Woi, bro.. lihat tuh,” sorak Bono.Aku pun menolehkan kepala ke belakang. Kakakku Ochi sedang lari bugil di dalam rumah!! Duh, kelupaan! Aku baru ingat kalau kakakku sedang menungguku membawakan handuk dari tadi. Pasti dia bosan menunggu hingga akhirnya nekat lari ke kamarnya bertelanjang bulat seperti itu. Entah dia tahu saat ini sedang ada teman-temanku atau tidak. Beruntunglah mereka yang buruk rupa ini dapat melihat tubuh telanjang kakakku yang cantik. Aku jadi merasa bersalah pada kakakku, dia pasti marah nih...Tapi kulihat kakakku malah melihat ke arah kami dan tersenyum!! dan karena tidak melihat ke depan, dia malah tersandung kaki meja dan tersungkur jatuh (kapok... binal sih).Sontak aku langsung bangkit dan menghampirinya, bahkan teman-temanku ini juga ikut-ikutan menghampiri. Jadilah kini tubuh telanjang kakakku dikelilingi oleh kami berlima. Buah dada, putingnya, vagina semuanya terlihat jelas oleh kami. Rasanya gimanaaaa gitu melihat kakakku yang cantik bening dan lagi telanjang bulat sedang dikelilingi oleh teman-temanku yang buruk rupa dan dekil ini. Suasananya seperti kakakku akan digangbang oleh kami beramai-ramai.“Gak apa, kak? Kakak sih liatnya kemana aja…” kataku sambil menarik tangannya untuk bangkit, masih lembab dan terasa sangat licin tangannya.“Duuuuh… kamu yang kemana aja dari tadi ditungguin, mana handuk kakak?” kata kak Ochi membungkuk sambil mengelus-ngelus pergelangan kakinya yang tersandung tadi. Temanku yang berada di belakang Kak Ochi tentu saja dapat melihat belahan vagina dan lubang pantat kakakku itu.“Hehe.. lupa, kak.. maaf deh...” jawabku.“Huh!!” sungutnya dengan wajah kesal, imutnya.“Gak apa, kak?” tanya mereka sok perhatian layaknya anak baik-baik, padahal kuyakin saat itu pikiran mesum mereka sedang melambung tinggi karena melihat sosok telanjang kakakku di tengah-tengah mereka.“Iya, gak apa.. makasih yah…” jawab kak Ochi cuek tidak peduli kalau tubuh telanjangnya sedang dipelototi mata-mata nakal mereka.“Ada yang sakit, kak? Biar saya pijitin deh..” tawar Bono sok bisa mijit.“Udah, gak apa-apa kok.. kakak ke kamar dulu,” kata kak Ochi. Dia pun kembali ke kamarnya, berlari kecil sambil menutupi tubuh telanjangnya seadanya dengan tangan.“Awas, kak, ntar jatoh lagi lho.. hehe,” ujar Ucup, kakakku hanya tersenyum saja menoleh ke arah kami.Beberapa saat kemudian dia keluar dari kamarnya. Pakaiannya? Dia pakai baju gamis dengan celana panjang serta memakai jilbab. Kali ini berlawanan dengan yang tadi, yang mana tadi telanjang bulat memperlihatkan seluruh tubuh termasuk vaginanya kini malah begitu tertutup. Betul-betul kontras. Sepertinya dia juga mau keluar malam mingguan main bareng teman-temannya. Tapi tunggu, puting susunya nyetak di bajunya!! Dia tidak makai bh!! Apa-apaan sih kakakku ini.“Dek, itu teman-temanmu belum dikasih minum dari tadi? Gimana sih kamu,” ujar Kak Ochi melihat tidak ada apa-apa di atas meja.“Eh, iya yah… sorry bro, tolong buatin minum dong, kak…” suruhku.“Iya-iya… Kalian mau minum apa?” tanya kakakku ramah menawarkan minum.“Susu murni ada gak, kak? Hehe,” kata Ucup sambil lancang melihat ke buah dada kakakku, sepertinya dia sadar kalau kakakku tidak memakai apa-apa lagi dibalik pakaian itu. Kakakku sepertinya juga tahu kalau mata si Ucup memandang ke dadanya, tapi dia cuek aja, nakal amat kakakku ini.“Gak ada tuh.. yang lain aja yah?”“Kasih minyak goreng panas aja mereka, kak..” kataku kesal, kakakku tertawa renyah mendengarnya.“Ya udah, bentar deh.. sirup dingin aja yah?” ujar kakakku beranjak menuju dapur.“Mau dibantuin gak, kak?” tawar Bono.“Hihi.. Kalian emang anak yang baik-baik yah.. jadi senang kakak sama kalian, tapi gak usah deh.. biar kakak aja,” jawab Kak Ochi ramah.Apanya yang anak baik, kakakku gak tahu aja apa yang ada di pikiran mereka. Tapi sepertinya kak Ochi emang tahu deh apa yang sebenarnya dipikirkan teman-temanku ini pada dirinya. Dia pun ke dapur sedangkan kami melanjutkan ngobrol.“Nih dek, minumnya,” dia kembali beberapa saat kemudian membawa nampan dengan gelas-gelas berisi minuman.“Makasih, kak..” jawab mereka hampir serentak.“Kak.. Bono ngefans banget loh sama kakak.” kata Bono tiba-tiba. Kampret nih si Bonbon, apa sih maksudnya.“Yanto juga,”“Aku juga, kak,” kata mereka saling berebutan tidak mau kalah menyampaikan isi hatinya. Gaya mereka seperti menembak kakakku aja. Tidak heran sih kalau kakakku menjadi idaman para pria. Udah baik, cantik lagi. Apalagi bagi teman-temanku yang sudah sering melihat tubuh kakakku dengan pakaian minim, bahkan tadi sempat melihat tubuh telanjangnya.“Hah? Iya yah? Makasih banget kalau gitu.. gak nyangka kakak.. hihihi,”“Iya, kak… kakak cantik sih… mau pake jilbab atau nggak sama-sama cantik, apalagi…. kalau telanjang kaya tadi… hehe,” ujar si Ucup kurang ajar.“Huuu… dasar, makasih deh, anggap aja tadi itu hadiah untuk fans-fansnya kakak.. hihi,”“Hehe… pengen deh sering-sering ke sini biar dapat hadiah terus… sayang rumahku jauh,” ujar Toni yang paling jarang main ke rumah.“Iya, main aja dek sering-sering ke sini, gak apa kok… siapa tahu kalau kalian hoki bakal dapat hadiah,” kata kak Ochi meladeni obrolan nakal mereka dengan ramah. Apa-apaan sih kakakku ini.“Ya udah.. kakak ke dalam dulu… santai aja yah kalian, anggap aja rumah sendiri,” kata Kak Ochi menuju ke kamarnya.“Sip, kak..”Kami pun lanjut ngobrol sambil menghabiskan waktu menunggu malam.“Bro.. gue misi ke wc yah…” kata Ucup.“Iya, lo udah sering juga ke sini, pake misi-misi segala. Tapi awas, jangan salah belok lo!” kataku padanya, dianya hanya cengengesan saja.Asik ngobrol aku baru sadar kalau si Ucup belum kembali dari tadi, aku jadi berpikir yang macam-macam lagi. Beberapa saat kemudian barulah si Ucup kembali.Saat kak Ochi terlihat lagi, kali ini dia sudah mengenakan baju yang berbeda, emang kemana bajunya tadi? Pikirku. Hal itu terjawab saat aku hendak ke kamar mandi pengen pipis, ternyata bajunya yang tadi ada di tumpukan pakaian kotor. Tapi tunggu… ada banyak noda putih berlumuran di kaosnya itu!! Dan aku yakin kalau itu sperma karena dari baunya yang menyengat!! tapi milik siapa? Ucup!! Ya.. pasti dia. Pantas saja dia lama tadi. Kepalaku jadi pusing membayangkan apa yang tadi terjadi antara mereka berdua.“Cepat amat bro ke WC nya? Gue tadi malah lama amat… puas banget tadi keluar semuanya.. hehe,” kata Ucup cengengesan padaku saat aku kembali ke depan.Kampret nih anak, dia pikir aku tidak tahu apa maksud perkataannya itu. Tapi aku penasaran juga kenapa kakakku mau saja membiarkan si Ucup melecehkannya seperti itu, sampai ngebolehin si Ucup numpahin spermanya ke baju kaosnya segala. Lagian setahuku baju kakakku itu baru dibeli minggu kemarin dan baru sekali tadi dipake, sekarang malah terkena cipratan pejunya si Ucup. Kakakku benar-benar nakal. Memikirkan itu entah kenapa penisku jadi tegang.Tapi ya sudahlah, siapa juga yang bakal nahan melihat penampilan kakakku seperti itu, apalagi baru saja melihat kakakku yang telanjang. Masih untung dia cuma nyemprot di baju kakakku, coba kalau di vaginanya. Masa aku harus punya ipar kaya si Ucup, gak sudi banget. Okelah kali ini aku maafkan si Ucup, lebih dari ini akan kuhajar beneran dia.Besoknya aku menanyakan pada kakakku tentang apa yang sebenarnya terjadi kemarin antara dia dan Ucup. Dari pengakuan kakakku sih karena si Ucup maksa karena tidak tahan melihat dia, hingga akhirnya dibolehkan juga oleh kakakku.“Iya kok, dek, cuma ngebolehin dia onani di depan kakak aja kok. Tapi ya itu, dia sembarangan ngecrotnya sampai kena baju kakak.”“Oohh…gitu?”“Iya, gak lebih kok, sumpah. Masih cuma kamu kok yang pernah ngecrot di muka sama mulut kakak, hihihi…”“Nnggg.. Ya udah deh, kak… Tapi jangan bolehin lagi dia kak, ntar dia ngelunjak.”“Ya udah kalau itu mau kamu, kakak janji,” setujunya sambil membentuk tanda ‘ok’ dengan tangannya. “Eh, ngomong-ngomong tiga hari lagi kamu ulangtahun kan, dek? Yang ke berapa tahun yah? Lupa kakak…” sambung kak Ochi.“Tujuh belas, kak.”“Iya kah? Pantas makin porno aja kamunya… Udah gede ternyata adek kakak ini... hihi,” katanya sambil mengusap-ngusap rambutku.“Gak terlalu porno kok, kak… hehe..”“Dasar, kakak bukan muji. Mau hadiah apa dek, dari kakak?”“Ngggg.. kan aku udah gede nih, kak…”“Iya, terus?” tanyanya sambil menatapku dekat-dekat.“Boleh minta hadiah khusus orang dewasa gak?”“Hmm... Apa? film bokep?”“Nggak…!!” Untuk apa aku film bokep kalau sudah punya kakak seperti dia.“Trus? Jangan bilang kalau kamu minta gitu-gituan sama kakak!”“Hehehe.. tau aja.. Gak boleh ya, kak? Pengen padahal, hehehe…”“Gila kamu! Kita tuh saudara kandung! Dasar mesum…” katanya menepuk jidatku. “Hmm… Gini aja deh, seharian besok ini, kakak bakal ngebolehin kamu wujudkan semua fantasi nakalmu tentang kakak... mau?” tanyanya dengan memasang wajah menggoda.“Eh, b-beneran, kak?”“Iya… se-mu-a-nya, suka-suka kamu deh pokoknya kakak mau diapain. Tapi dengan catatan, gak boleh sampai gitu-gituan, oce?” katanya dengan senyum nakal lalu mengedipkan mata kirinya.“O-oke, kak.”S-se-semuanya? Yuhuuuu.... Senangnya bukan main. Aku harus memikirkan semua hal cabul sebanyak mungkin dari sekarang, mumpung ada kesempatan untuk melampiaskannya. Tapi, apa mampu aku untuk tidak mengeksekusinya kalau nanti aku betul-betul tidak tahan? Ah, lihat saja nanti apa yang akan terjadi. Yang jelas aku betul-betul tidak sabar menunggu hari itu tiba.***Tiga hari kemudian…“Adeeeekkk… bangun..!!”“Udah jam segini, ntar terlambat kamu sekolahnya…” teriaknya lagi sambil menarik selimutku.“Hoaam…. Iyaaaa,” Kucoba membuka mataku yang masih terasa berat, soalnya tadi malam aku tidak bisa tidur karena begitu menanti-nantikan datangnya hari ini. Namun saat kulihat ada sosok indah di depanku, tiba-tiba mataku langsung jadi melek.Selama tiga hari belakangan ini aku juga tidak berbuat macam-macam pada kakakku, aku juga tidak onani. Sengaja menyimpan semuanya untuk hari ini.“Dek, selamat ulang tahun yah…” ucapnya dengan senyum manis mengembang. Indah sekali rasanya pagi-pagi sudah disuguhi senyum manisnya.“Eh, iya… makasih, kak…” kataku sambil senyum-senyum mesum, berharap dia tidak lupa dengan janjinya waktu itu, yang memperbolehkanku melampiaskan segala fantasiku tentang dia.“Napa kamu senyum-senyum gitu? Hihihi.. Iya-iya kakak tahu… tapi sekolah dulu sana...” ujarnya sambil membuka daun jendela kamarku.“Yah… hari ini libur dong, kak, masa sekolah juga… gak puas ntar, hehe.” kataku malas. Aku harus betul-betul memanfaatkan hari ini dengan baik! Kulihat Kak Ochi tampak berfikir sambil tersenyum-senyum padaku.“Dasar, masa sampai bolos sekolah sih… Hmm… Ya udah, kakak juga libur deh kuliahnya, kakak bakal temani kamu seharian…” katanya setuju. Yes, Aku senang bukan main, kakakku ini memang baik.“Hehe, makasih kak,”“Iya iya iya… udah, sarapan dulu deh kalau gitu, udah kakak siapin tuh,”“Oke, kak…”Dengan semangat empat lima aku bangkit dari tempat tidur, begitu tidak sabarnya untuk melalui hari ini yang indah ini. Dimulai dengan sarapan bersamanya? Suatu awal yang bagus kurasa. Pakaiannya pagi ini juga menggoda seperti biasa, hanya mengenakan celana pendek dan tanktop, ketegangan penisku tentu saja tidak dapat dihindari.Di atas meja makan sudah terhidang nasi goreng spesial buatan kak Ochi, bahkan kali ini terlihat lebih istimewa dengan garnish yang menghiasi. Sepertinya dia sudah bangun dari tadi untuk mempersiapkan ini semua untukku. Baiknya dia.“Enak banget kak nih kelihatannya, sempurna.”“Hahaha, iyah… makasih. Yuk makan... sini kakak suapin deh, mau gak?” tawarnya, aku hanya mengangguk-angguk kesenangan.Dia duduk di sebelahku dan mulai menyuapiku. Indah sekali saat ini, serasa pasangan suami istri yang baru menikah saja. Tapi bukan kak Ochi namanya kalau gak suka godain adeknya ini, sesekali saat akan menyuapiku, dia malah menyuapi dirinya sendiri, jadilah hanya angin yang masuk ke mulutku yang membuka lebar. Pakai tertawa cekikikan segala dia. Tapi gak masalah sih, aku juga suka keadaan begini. Menandakan hubungan kami yang memang akrab sebagai kakak adik.“Fuaahh.. kenyang, kak,” kataku puas setelah selesai makan.“Gimana? Enak kan? enak dong pastinya… kakakmu gitu lho…” katanya membanggakan diri.“Iya, enak banget kak, apalagi disuapin.. hehe..”“Ya udah… istirahat bentar, tenangin dulu tuh perutnya,”“Terus, kak? Habis itu?”“Maunya kamu apa?” tanyanya balik sambil tersenyum manis. Glek, aku menelan ludahku. Terlebih saat itu aku melihat puting susunya yang nyetak dari balik tanktopnya, tampak tegak menantang. Tapi anehnya aku malah jadi bingung harus dimulai dari mana, padahal aku sudah mempersiapkan banyak khayalan cabul untuk hari ini.“Ngg… apa yah, kak…”“Hihihi.. grogi yah kamunya? Ya udah tenangin dulu aja perutnya.. ntar kalau udah bilang kakak. Hari masih panjang kok…” katanya bangkit dari tempat duduk lalu membereskan piring dan membawanya ke dapur. Sial! kenapa aku jadi grogi gini sih.Kubiarkan perutku tenang dulu sambil menonton acara tv, kekenyangan sih. Sambil nonton, sesekali mataku melirik ke arah kakakku yang sedang asik beres-beres rumah. Kakakku ini memang rajin, udah gitu jago masak lagi, cantik dan juga baik, kurang apa lagi coba, kurang belum sempat kusetubuhi saja, hehehe.“Kak…”“Hmm? Apa, dek?” dia berhenti nyapu dan mendekat ke arahku. “Apa?” tanyanya lagi sambil duduk di sebelahku. Sial, aku jadi berdebar-debar. Hilang lagi apa yang mau aku ucapkan.“Kepengen kakak telanjang ya? Kalau iya bilang aja…” katanya mencoba menebak keinginanku, dan memang benar tebakannya itu.“B-boleh, kak,” jawabku.“Pengen sekarang?”“I-iya, kak, sekarang.”“Beneran?” Duh, apaan sih dia, lama amat.“Iya, kaaaaak…”Dia hanya tersenyum, kemudian bangkit dan mundur selangkah. Dia mulai membuka pakaian yang melekat di tubuhnya. Tanktop kemudian celana pendeknya, menyisakan celana dalam krem yang berenda. Aku lagi-lagi berdebar melihat pemandangan ini, padahal aku sudah pernah melihat dia telanjang sebelumnya. Dengan masih mengenakan celana dalam, dia malah berpose imut dengan menyilangkan tangan di dadanya, seakan berusaha menutupi buah dadanya itu, bikin aku gregetan aja.“Ayo…. ngaceng yah?” godanya. Tentu saja ngaceng, siapa juga sih yang nggak. Dia senyum-senyum saja melihatku yang salah tingkah.“Adeeek… copotin celana dalam kakak dongggg,” katanya mendesah, membuat aku menelan ludah dan semakin salah tingkah.“Lho, kok diam, dek? Ayo dong…. Mau kakak telanjang gak?” Duh, mana bisa tahan aku. Penisku sudah menegang maksimal di dalam celana.“I-iya, kak.” jawabku dengan suara bergetar saking groginya. Aku turun dari kursi dan berlutut di depan kak Ochi. Aku betul-betul berdebar, bagaimana tidak, sensasi menurunkan celana dalam cewek ini lho, mana pernah aku melakukan hal ini sebelumnya.Kuselipkan jariku di pinggir celana dalamnya dan mulai menariknya turun secara perlahan. Aku betul-betul menikmati sensasi ini meskipun dadaku berdebar dengan kencang.“Nikmati aja, dek.. gak usah buru-buru nariknya,” ujarnya pada adek laki-lakinya yang sedang berusaha menanggalkan celana dalam kakaknya ini.“I-iya, kak,”Kuturunkan lagi celana dalamnya itu dengan perlahan hingga akhirnya vaginanya terlihat. Seketika aroma wangi vaginanya masuk ke hidungku, begitu menggoda dan memancing hasrat kelaki-lakianku. Kak Ochi kemudian mengangkat kakinya untuk membantuku melepaskan celana dalam itu melewati kakinya. Dengan sembarangan kulempar celana dalamnya itu.“Heh! lempar sembarangan aja! itu celana dalam kakak tau!” protesnya, aku hanya cengengesan saja. Kini dia sudah telanjang di depanku, tanpa sehelai benangpun menempel di tubuhnya!“Nih… kakak lepasin juga yang lain,” katanya sambil melepaskan ikat rambut, kalung, dan antingnya. Sekarang dia betul-betul telanjang bulat! polos tanpa ada apapun yang menempel di tubuhnya! Sensasional banget. Aku sampai tidak dapat berkata-kata dibuatnya. Kak Ochi hanya senyum-senyum saja melihat adeknya yang terbengong-bengong melihat ketelanjangannya ini.“Dek, kakak nyapu dulu yah.. belum selesai nih…” katanya menyadarkanku. Wah, kayaknya asik nih liat dia yang sedang bugil lagi beres-beres rumah.“Iya, kak… lanjut aja, hehehe…”Kak Ochi hanya tersenyum saja, sepertinya dia tahu kalau memang itu yang aku inginkan, melihat kakaknya yang cantik beres-beres rumah sambil telanjang bulat. Dia lanjutkan acara menyapunya lagi. Dengan santainya dia beres-beres rumah seperti biasa, padahal dia sedang telanjang bulat sekarang ini, satu lagi fantasiku terkabul.Yang membuat aku cukup berdebar karena pintu depan yang masih terbuka, apalagi dia menyapu hingga sampai di depan pintu, meski tidak sampai keluar rumah.“Berani nyapu sampai ke teras depan gak, kak?” tantangku iseng.Kak Ochi melirik sejenak padaku, lalu celingukan memperhatikan keadaan di luar. Nafasku jadi tertahan, dia berjalan keluar rumah! Gila, ternyata nekat juga kak Ochi berani menerima tantanganku. Aku jadi semakin deg-deg kan saja, kakakku yang cantik bening, sedang menyapu bugil di teras depan! Bagaimana kalau ada orang lewat dan menoleh ke arah sini. Tentu saja orang itu akan menemukan sosok gadis muda yang putih mulus sedang telanjang bulat. Apalagi kalau orang itu tetangga-tetangga kami, yang biasanya mengenal dan melihat kakakku selalu tertutup dan berjilbab kalau keluar rumah. Tapi memikirkan kalau ada orang mendapati kakakku sedang bertelanjang bulat malah membuat penisku tegang, walaupun aku tidak benar-benar menginginkan hal itu terjadi.Untung saja dia tidak lama-lama berdiri di sana dan kembali masuk ke dalam dan menutup pintu, aku jadi dapat bernafas lega lagi.“Berani amat, kak, kalau ada orang liat gimana tuh tadi?”“Biarin, tapi kamu suka kan? Ngakuuu…” tanyanya balik. Aku hanya cengengesan saja. Iya sih suka, tapi kan ngeri juga.Lama-kelamaan kulihat sesekali kakakku mengusap-ngusapkan tangannya ke tubuhnya sendiri. Sepertinya dia mulai kedinginan, wajar saja karena hari masih pagi, apalagi dia sedang telanjang bulat. Kasian juga liatnya.“Dingin, kak?” tanyaku padanya, dia hanya tersenyum manis saja. “Pakai aja bajunya kak kalau dingin…” suruhku karena tidak tega juga melihat dia kedinginan.“Hmm.. gak dingin kok, udah.. gak papa kok,” jawabnya sambil tetap tersenyum, seakan berusaha tetap menuruti fantasiku pada dirinya.“Kalau gitu ke kamar aja yuk, kak…”“Hah? Kakak lagi bugil gini diajakin masuk kamar? Ayo… kakak mau diapain nih, dek?”“Biar lebih anget aja kak, lagian kan katanya boleh seharian ini kakaknya aku apa-apain, hehehe…”“Iya-iya… dasar kamu,” Kak Ochi akhirnya setuju dimasukin ke kamar. Dia melirik sambil senyum-senyum ke arahku seperti berusaha mencari tahu kalau-kalau aku punya niat mesum terselubung.“Ya udah, yuk dek.. masukin kakak ke kamar,” sambungnya lagi. Glek, aku menelan ludah mendengar omongannnya ini, pikiranku jadi melayang kemana-mana.“Ayo dong… katanya mau angetin kakak, masukin dong kakakmu ke kamar,” Glek, glek, glek, aku jadi menelan ludah berkali-kali karenanya. Apalagi dia mengatakan itu sambil mendesah dan menatap nakal padaku. Aku tidak tahan lagi!!! Saking tidak tahannya kugendong juga tubuhnya dan lekas membawa ke kamarnya.“Aw… dek! Gila kamu pake gendong-gendong segala…” katanya terkejut karena tiba-tiba digendong olehku. Untung dia tidak marah beneran, malah cekikikan geli karena ulahku ini. Kubuka pintu kamar dan merebahkan tubuh bugil kakakku ke ranjang.“Aw.. pelan-pelan! Rusak ntar tempat tidur kakak!” protesnya. Aku hanya cengengesan saja.Dia lalu mengambil selimut dan menyelimuti tubuh telanjangnya seadanya dengan kain selimut itu. Satu buah dadanya masih terbuka, begitupun pahanya yang mulus. Pose yang sangat menggiurkan, apalagi dia malah menatapku sambil tersenyum manis, makin tidak tahan aku dibuatnya. Kubuka juga baju dan celanaku hingga akhirnya aku juga jadi ikut-ikutan telanjang bersama kak Ochi di dalam kamarnya.“Eh, mau ngapain kamu, dek? Malah ikutan telanjang gitu…” tanyanya dengan ekspresi cemas, entah dia benar-benar cemas atau hanya pura-pura, aku juga tidak tahu.Kini kami berdua sudah sama-sama telanjang bulat di dalam sini. Suasana yang sangat mesum tercipta, tanpa lama-lama menunggu, langsung aku melompat terbang ke ranjang menghimpit tubuhnya.“Dek… sakit! Gila kamu! Kontrol diri, dek! Deeek… geli!” teriaknya karena tiba-tiba dihimpit oleh tubuhku, kupikir dia betul-betul kesakitan tapi ternyata dia juga sesekali cekikian kegelian. Aku cuek saja dan tetap memeluk tubuhnya yang masih dibalut selimut seadanya itu.“Duh… dek! bentar! kakak mau ngomong…!!” teriaknya lagi sambil mendorong tubuhku sehingga pelukanku terlepas.“M-maaf, kak,” kataku akhirnya dapat menenangkan diri.“Kamu ingat kan apa kata kakak bilang kalau gak boleh sampai gitu-gituan?”“I-iya, kak,” jawabku grogi, takut dia marah dan membatalkan acara ini.“Hihi.. gak usah takut gitu, dek… kakak gak marah kok, cuma ngingetin aja.” ujarnya sambil tersenyum, aku lega ternyata dia tidak benar-benar marah.“Mau lanjut meluk kakak gak nih? Tapi awas jangan sampai nyelip tuh burungmu!” katanya lagi.“I-iya, kak… j-janji gak nyelip,”Kak Ochi tersenyum manis padaku, menandakan dia percaya kalau aku tidak akan berbuat macam-macam hingga sampai menyetubuhinya. Dia lalu membuka lebar-lebar selimut yang tadi menutupi tubuhnya, kemudian dengan gaya nakal menyuruhku mendekat dengan isyarat telunjuk. Tanpa menunggu langsung saja aku terkam lagi dirinya, membuat dia lagi-lagi tertawa cekikikan kegelian.Jadilah kini tubuh telanjang kami saling berhimpit dan berpelukan, aku di atas dan dia di bawah. Kulitku bersentuhan langsung dengan kulitnya yang mulus dan licin, harum khas tubuhnya membuatku semakin terbuai dan merasa nyaman. Penisku tegang bukan main, tepat berada di atas selangkangannya. Dia sendiri sebenarnya berusaha sedikit memiringkan pinggangnya agar vaginanya tidak lurus berhadapan dengan penisku, pahanya juga ditutup rapat-rapat.Sambil memeluk, tanganku mencoba menggerayangi bagian tubuhnya yang lain, seperti bahu, leher, perut dan tentunya payudaranya. Tubuhku juga kugesek-gesekkan ke tubuhnya, memberikan sensasi luar biasa. Jantungku semakin berdebar saat dadaku bergesekan dengan puting payudaranya yang tegak mancung.“Hihihi.. Dek, gitu banget debaran jantungmu?” ujarnya yang ternyata ikut merasakan debaran jantungku.“Kakak juga tuh… hehehe,”“Yee… kakak berdebar karena takut ntar kamu nyelip,” alasannya. Aku tertawa mendengarnya, dia hanya senyum saja sambil mencubit hidungku.“Kak..”“Hmm? Apa, dek?”“Boleh cium kakak?”“Cium yang mana dulu nih? Pipi atau bibir kakak?” tanyanya balik.“Kalau bibir boleh?”“Hmm.. boleh gak yaaahh…” godanya. Aku berharap dia membolehkanku mencium bibirnya, aku penasaran banget bagaimana rasanya. Kupasang wajah memelas padanya agar dibolehkan.“Boleh deh… dasar mesum!” setujunya sambil mendorong keningku pakai ujung telunjuknya.“Hehehe.. makasih, kak.” aku senang tak terkira, ciuman pertamaku kudapat dari kakakku sendiri. Entahlah bagi kakakku, apa ini juga akan menjadi ciuman pertamanya. Aku tidak tahu juga saat dia pacaran dulu apa dia sudah pernah ciuman.Kudekatkan wajahku sehingga wajah kami saling behadapan, mata kami juga saling betatapan, sekali lagi dia tersenyum manis padaku. Aku dapat merasakan helaan nafasnya, membuatku makin berdebar karenanya. Segera kuciumi bibirnya, yang pertama hanya sekedar mengecup sebentar saja. Saat mencoba yang kedua, kecupanku sedikit lebih lama. Ciuman selanjutnya aku coba mengulum bibirnya yang mungil itu, bahkan kemudian aku mulai berani memasukkan lidahku ke dalam mulutnya, awalnya dia seperti terkejut karena aksiku ini, tapi akhirnya diapun pasrah dan ikut memainkan lidahnya sehingga lidah kami saling membelit satu sama lain.“Ngmmhh.. belajar dari mana kamu, dek? Udah sering ciuman yaaaah?” tanyanya saat ciuman kami berhenti.“Gak pernah kok, kak, liat di bokep doang.” jawabku. Dia hanya tersenyum sambil mencubit gemas hidungku.Kuputar tubuhku sehingga kini kami bertukar posisi, sekarang dia yang berada di atas dan aku yang berada di bawah. Berat tubuhnya yang menghimpitku memberi sensasi yang berbeda, penisku jadi makin tertekan ke arah selangkangannya.“Ups, hampir aja nyelip, hahaha.” katanya sambil tertawa, padahal aku berharap benar-benar nyelip.“Lagi, dek? Puas-puasin deh kamunya cium dan meluk kakak hari ini… tapi inget, kontrol diri yah..” ujarnya.“I-iya, kak,”Kucium bibirnya lagi dan lagi, memainkan lidahku di dalam mulutnya dan dia juga memainkan lidahnya dalam mulutku. Kami betul-betul saling membagi air liur saat itu. Dalam posisi ini aku juga lebih leluasa untuk memeluk pinggang serta meremas pantatnya. Sesekali dia mengerang dan melotot padaku saat remasan tanganku terlalu keras. Kami terus bercium-ciuman hingga tanpa terasa badan kami mulai memanas.“Benar kan, kak… jadi anget kan? Tuh kakak jadi berkeringat gitu?” kataku saat melihat peluh mulai membasahi keningnya.“Kamu juga tuh keringatan, kakak keberatan yah dek?” katanya sambil mengusap keringat di keningku dengan tangannya.“Gak kok, kak… kalau yang himpit kakakku yang cantik sih gak masalah, hehehe,”“Gom-bal…” dia cium lagi bibirku. Kami lanjutkan lagi acara cium-ciuman yang mesra dan intim ini.Ciuman kami semakin panas, sepanas badan kami yang sudah mulai berkeringat. Tanganku juga makin kelayapan di tubuhnya. Sekarang kak Ochi tidak mempermasalahkan lagi bila aku meremas pantatnya terlalu keras. Cukup lama kami melakukan aksi ini, aku sendiri tidak pernah bosan. Rasanya ingin terus dan terus. Tapi akhirnya dia lepaskan juga ciumannya dan bangkit duduk di pahaku.“Udah ah ciumannya, gak pegal apa mulut kamu?” katanya sambil menyeka liur di sela bibirnya, aku tidak tahu juga liur itu milikku atau miliknya.“Gak, kak, lagi dong…” pintaku yang belum puas. Dia tersenyum manis kemudian merebahkan badannya lagi, kami pun lanjut berciuman lagi. Cukup lama.“Sekarang udah? Gak bosan kamu apa? Lihat tuh ilermu kemana-mana,” katanya sambil mengusap liur di daguku dengan jarinya, lalu mengulum jarinya itu sambil tersenyum manis padaku. Seksi gila!“Tumben kamu lama muncratnya? Jangan ditahan-tahan, dek… keluarin aja kalau mau, bebas kok hari ini.. hihihi,”“Hehehe… ntar deh, kak, tunggu saat yang tepat.”“Nunggu apaan?” katanya menatap curiga. Aku hanya cengengesan saja.“Ayo bilang nunggu apaan? Mau ngapain kamu? Ngaku!” desaknya sambil mencubit pinggangku.“Ngent-, ups.. gitu-gituan sama kakak, Hehe,”“Kamu ini bandel amat sih dek, udah kakak bilang gak boleh!”“Yah.. kak... boleh dong…” pintaku memelas sambil meraba-raba paha mulusnya.“Dasar… Segitunya pengen ngent-, ups... gitu-gituan sama kakak.. hihihi,” balasnya. Aku juga jadi tertawa kecil saat dia ikut-ikutan pura-pura salah ngomong ngucap kata ngentot.“Iya nih, kak.. pengen banget ngentotin kakak,” kataku tanpa segan lagi nyebut kata itu.“Hah? Kamu ngomong apa tadi barusan? Ayo bilang lagi,” katanya sambil mendekatkan kupingnya ke bibirku.“Pengen ngentotin kakak…” kataku lagi.“Kamu ini, gak ada bahasa lain apa? geli dengarnya… jorok!”“Lebih enak, kak… lebih gimana gitu.. hehe,”“Dasar, emang porno adeknya kakak ini.. hihihi… ya udah deh, terserah kamu, kakak bolehin deh hari ini kamu ngomong jorok-jorok ke kakak, tapi tetap aja gak boleh ngentotin kakak!” katanya tegas. Yaaah… pengen banget padahal, ya sudah lah, daripada nanti makin runyam, kuturuti saja dulu.Kutarik lagi dianya sehingga dia jatuh lagi ke pelukanku. Kemudian kuputar lagi tubuhku sehingga aku kembali berada di atasnya, menghimpit tubuh kakakku, serta menciumi wajah dan bibirnya sesuka hati, wajahnya bahkan sampai berlumuran air liurku.“Pelan-pelaaaaaann, geli!” erangnya. Tapi aku tidak peduli, aku terus menggerayangi tubuhnya. Penisku bahkan sampai nyelip di antara pahanya. Kembali percumbuan panas ini memancing keringat kami untuk mengucur lebih deras.Tanpa meminta persetujuan darinya, kuberanikan diri mengulum puting payudaranya yang tegak mancung sedari tadi. Memainkan lidahku di putingnya serta menjilati seluruh permukaan buah dadanya yang putih mulus itu sesuka hatiku.“Nggghhh…. Dek, udaaaaaaah… geli,” erangnya sambil memegang kepalaku dan berusaha mendorongnya. Tapi aku malah jadi tambah semangat memainkan buah dadanya karena ulahnya itu. Lidahku makin buas menjilati puting payudaranya yang semakin tegak, tanganku juga mulai berani meremas buah dadanya yang satunya lagi.“Ngmmhhh… duh, geli dek… hihihi,” suara erangannya terus saja terdengar, bahkan sesekali cekikikan geli, membuat aku jadi tambah semangat. Rasanya aku tidak ingin berhenti.“Tok-tok-tok,” terdengar suara ketukan pintu. Kampret!! Baru juga mulai asik ada aja yang nganggu.“Tok-tok-tok,”“Ochiii,” terdengar suara wanita memanggil kakakku. Dari suaranya aku dapat mengenali kalau itu kak Tia, temannya kak Ochi yang sesekali datang ke sini.“Dek.. teman kakak tuh…”“Ahh… nganggu aja, kak,” kataku tidak peduli dan terus memainkan buah dada kakakku, bahkan mulai menggigit putingnya.“Aw… ssshhh, sakit! Jangan digigit!” katanya kesal, aku hanya cengengesan saja. Kuteruskan mengulum buah dadanya dengan tetap sesekali menggigit putingnya. Dia tidak melarang lagi putingnya digigit-gigit olehku.“Ochiiii,” panggil temannya lagi.“Dek! Udah dulu ah kamunya, bentar… teman kakak tuh,” katanya lagi berusaha melepaskan diri. Aku masih saja cuek, berharap temannya itu bosan sendiri dan segera pergi.“Kreeek,” terdengar suara pintu depan terbuka, ternyata pintu depan tidak terkunci!“Chiii… aku masuk yaaaah,” teriak temannya itu. Kami berdua panik minta ampun, bisa masalah juga kalau dia menemukan temannya sedang telanjang bulat berdua dengan adiknya di atas ranjang.“Tuh kan kamunya!” katanya panik. Aku akhirnya melepaskan juga pelukanku. Dengan secepat kilat kak Ochi bangkit dari ranjang, mencari baju di lemari dan memakainya. Tentu saja pakaian yang terbilang cukup sopan meski orang itu teman perempuannya, sebuah celana sepanjang lutut dan baju kaos, walaupun tanpa dalaman karena kak Ochi buru-buru.“Dek! Pakai bajumu!!” suruh kak Ochi panik.“Malas ah..” jawabku cuek, dia tampak kesal mendengar jawabanku itu. Biarin deh, nganggu aja sih temannya.“Ochiiii, kamu dimana sih? di kamar?” teriak Kak Tia lagi yang terdengar mendekat ke kamar, membuat kami berdua semakin panik.“Iyaaaaa, bentar, aku lagi ganti baju…” jawab kak Ochi berteriak. “Ya udah, jangan berisik, tunggu aja di sini,” bisik kak Ochi padaku lalu segera keluar kamar.***“Eh, Tia…”“Sorry yah gue main masuk aja, lo sih lama amat, pintu gak dikunci lagi, untung gue yang masuk, coba kalau maling.”“Iya-iya, gak papa kok…”“Lo habis ngapain? Kusut gitu rambut lo? Keringatan lagi…”“Gak ada, cuma ketiduran aja.. hihihi,”Dari sini aku dapat mendengar jelas obrolan mereka. Aku sempat tertawa saat temannya menanyakan tentang bajunya yang basah di sekitaran puting kakakku, serta celana dalam kak Ochi yang ternyata masih berserakan di sana, sampai ngetawain kakakku jorok segala. Kak Ochi jadi kewalahan cari-cari alasan dibuatnya.Ternyata mereka cukup lama juga disana, ngobrol masalah kuliah sepertinya. Kak Ochi juga bilang ke temannya kalau dia tidak masuk kuliah nanti siang. Aku yang dari tadi memang sudah mupeng terpaksa onani sambil melihat foto kakakku yang ada di hapenya. Lebih dari setengah jam aku sendiri di sini hingga akhirnya kak Ochi masuk ke kamar.“Hihihi, dek? lagi ngapain tuh kamunya?” tanyanya pura-pura tidak tahu kalau aku sedang onani sambil menatap fotonya di ponselnya. “Gak sabaran amat kamunya sampai onani segala. Sini hape kakak!” katanya lagi sambil mengambil ponselnya dari tanganku.“Masih lama tuh kak temannya? Usir dong…”“Hah? Sembarangan aja kamu!”“Nanggung nih, kak…” rengekku.“Ya mau gimana lagi, ada teman kakak tuh,” katanya cuek sambil memeriksa hapenya kalau-kalau ada BBM atau sms yang masuk.“Terus aku gimana?”“Gimana apanya? Ya tunggu aja…” katanya santai, padahal si burung sudah menderita.“Kak…”“Apaaaa?” tanyanya cuek sambil tetap saja BBM-an. Gak tahu apa adeknya sedang nahan horni dari tadi!“Lanjut dong…”“Lanjut ngapain?” Dia tetap saja cuek pura-pura tidak tahu.“Kaaak…”“Iyaaaaa… apaan sih kamu?”“Pura-pura gak tahu, ntar aku perkosa lho,” kataku mulai jengkel.“Coba aja kalau berani..” jawabnya santai. Nantangin nih dianya. Aku bangkit dari tempat tidur dan menariknya ke ranjang. Ponselnya sampai terjatuh ke lantai.“Adeeeek!! Gila kamu! Ada teman kakak tuh di luar!” katanya berbisik keras. Aku cuek saja dan tetap memeluknya erat-erat.“Adeeek! Aw, iya-iya, ampun… hihihi.. udaaaah.. ampun!” katanya manja kegelian sambil berusaha melepaskan pelukanku. Beberapa saat kemudian barulah aku mau melepaskannya.“Dasar… gitu amat sih kamu,” katanya dengan wajah kesal sambil duduk bersila di atas ranjang.“Kakak sih…”“Ada teman kakak tau!”“Ya udah, kakak bantu kocokin sampai keluarin aja yah? Mau gak?” tanyanya sambil tangan kanannya diayunkan naik turun.“Hehe.. iya deh, kak…” Yuhuuu… penisku akan dikocokin olehnya. Sebenarnya sih aku mau melanjutkan seperti yang tadi. Tapi sekarang ini dulu juga tidak masalah.“Dasar!” dia tersenyum manis lalu bangkit untuk mengunci pintu. “Jangan berisik tapi kamunya!” katanya lagi, aku hanya angguk-angguk saja.Dia lalu bersimpuh di bawahku yang duduk di tepi ranjang, tangannya lalu menyentuh penisku. Terasa sangat mulus dan lembut telapak tangannya.“Enak?” tanyanya sambil melirik nakal.“Banget, kak.. halus tangan kakak, hehehe,” jawabku, dia senyum-senyum manis saja.“Mau pake lotion gak?”“Nngggg.. gak usah deh, kak, Nngggg…. ganti pakai ludah kakak aja gimana?”Dia agak terkejut awalnya mendengar permintaanku, namun akhirnya dia ludahi juga telapak tangannya berkali-kali, lalu melanjutkan mengocok batang penisku lagi, yang kali ini tangannya sudah berlumuran liurnya sendiri. Sensasinya luar biasa! Penisku betul-betul basah oleh liurnya, tidak hanya batang penisku, tapi juga buah zakar serta rambut kemaluanku. Mana bisa nahan lama-lama!“Kalau mau muncrat, muncrat aja dek… suka-suka kamu pokoknya mau muncrat dimanapun di kamar kakak,” ujarnya yang seperti mengetahui kalau aku tidak akan lama lagi.“I-iya, kak… oughhh.. kak… lebih cepat,” suruhku. Dia percepat kocokan tangannya sambil tetap berusaha melirik ke arah adeknya yang sedang mati kenikmatan ini. Aku tidak tahan lagi!“Crrooottt… crooooott…” Spermaku menyemprot dengan derasnya. Semprotan pertama mengenai wajah cantiknya dengan telak, membuat kak Ochi menjerit kecil dibuatnya. Semprotan berikutnya mengenai leher dan badannya bertubi-tubi, membuat kaos yang dia kenakan jadi basah berlumuran peju adeknya, hingga akhirnya sisa-sisa spermaku melelah di tangannya. Betul-betul banyak dan tampak menjijikkan.“Kamu ini… liat nih, jadi berceceran kemana-mana,”“Hehehe, maaf deh kak, ntar aku cuciin deh…”“Gak usah dek, gak papa kok.. kan udah kakak bilang suka-suka kamu, hihihi,” katanya lalu bangkit untuk ngelap muka dan menukar bajunya, soalnya tidak mungkin dia kembali menemui temannya dengan baju penuh ceceran sperma begitu.Kak Ochi kembali ke depan, aku sendiri mengenakan kembali bajuku, tapi memutuskan untuk tetap di sini sambil tidur-tiduran. Aku berharap temannya itu cepat pulang. Sialnya menjelang siang barulah temannya itu pulang.***“Kak, lanjut yuk?” ajakku bersemangat.“Gak makan dulu, dek? kakak udah lapar nih,”“Belum terlalu lapar kak, yuk kak lanjut.. lanjut kak,” rengekku seperti anak kecil. Biar deh, siapa tahu dia mau.“Hihihi.. kamu ini gak tahan amat, gak pengen yang lain-lain dulu?” tanyanya.“Emang apa, kak?”“Mau mandi bareng lagi gak? Kamu belum mandi pagi kan?” tawarnya.“Malas ah, kak, kan libur.. sore aja ntar mandinya,” jawabku, dia geleng-geleng kepala saja mendengar jawabanku. Dia lalu tampak berpikir sambil meletakkan jari di bibirnya, imut banget.“Hmm… tuh, kalau mau kamu boleh milih-milihin baju buat kakak lagi, berantakin aja isi lemari kakak sesukamu, gak papa kok..” katanya sambil memonyongkan bibirnya ke arah lemari pakaiannya.“Benar nih, kak?” dia hanya mengangguk sambil tersenyum manis. Langsung aku bangkit dari tempat tidur dan menuju lemari pakaiannya, tanpa ampun kuhambur-hamburkan isi lemarinya seperti maling. Ini memang merupakan fantasi favoritku tentang kak Ochi, memilihkan baju untuknya. Jadi aku tidak bakal bosan bereksperimen memilih-milih kostum yang sesuai khayalanku. Aku sih berharap ada kostum suster dan maid yang seksi, tapi mana mungkin ada.Aku suruh Kak Ochi berganti-ganti kostum, kali ini tidak lupa aku memotretnya tiap kostum yang dia kenakan, biar bisa jadi bahan onaniku di suatu saat nanti. Aku menjepretnya dengan berbagai gaya dalam macam-macam kostum. Aku memenuhi fantasiku dengan juga memintanya berpose sambil mengulum dan menjilati pisang, timun bahkan terong. Betul-betul menggoda dan membuat birahiku langsung naik. Liurku sampai menetes dibuatnya.“Hihihi, napa dek? Cemburu yah sama terong?” katanya menertawaiku yang sedang mupeng berat melihatnya. Dianya malah terus memancingku dengan melanjutkan menjilati batang terong itu, lidahnya yang merah muda bersentuhan dengan kulit terong yang ungu kehitaman, terongnya lumayan gede lagi. Otak mesumku jadi melayang kemana-mana melihatnya. Coba aja itu penisku.“Mau bantu pegangin, dek?”“Hah?” tentu saja aku terkejut, bercampur antara bingung dan senang.Sambil senyum-senyum dia sodorkan terong itu padaku, kuterima saja. Dia mulai menjilati terong yang kali ini dipegang olehku. Rasanya gimanaaaa gitu, melihat kakakku yang cantik sedang menjilati terong, apalagi aku yang memegang terong itu. Dia menjilatinya dalam berbagai posisi, berdiri, duduk, bahkan juga merangkak. Dia juga sengaja bikin aku tambah mupeng dengan senyum-senyum manis dan melirik nakal padaku, membuat aku makin gregetan.Kak Ochi lalu berbaring, kini tingkahnya seperti ikan yang mengincar terong sebagai umpannya, menggerakkan kepalanya mengikuti arah terong yang kupegangi ini. Sesekali aku mengerjainya dengan menaik-turunkan terong itu, membuatnya megap-megap mencoba menggapainya. Tapi kulihat Kak Ochi malah tertawa kecil dipermainkan seperti itu. Hingga ‘Hap’, terong itu berhasil tertangkap mulutnya, dia kegirangan sendiri karena berhasil menangkapnya. Sepertinya dia memang suka main ginian, dia sampai memintaku mengulanginya lagi dan lagi, aku turuti saja karena aku memang suka melihat pemandangan ini.“Tok-tok-tok,” Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu depan. Lagi, ada aja yang menganggu kesenanganku.“Tok-tok-tok,”“Delivery pizza h**” teriak orang itu. Ternyata itu pengantar pizza. Kami memang memesan pizza untuk makan siang kami.“Pizzanya tuh, kak,”“Iya, biar kakak aja yang bukain,” katanya lalu bangkit dari tidurannya. Lagi! dia akan menemui orang asing dengan pakaian minim seperti itu, hanya mengenakan kaos basket longgar dan celana dalam. Kaos basket itu cukup dalam hingga menutupi setengah pahanya, yang malah membuat dia kelihatan seperti tidak mengenakan bawahan. Tapi tidak hanya itu, dia juga membawa terong tadi!! Mau apa sih dia?!Aku hanya mengintip dari kamar kakakku ini. Pintu akhirnya dibuka oleh Kak Ochi, tampak seorang pemuda dengan kulit hitam dengan wajah standar. Kulihat pemuda itu terkejut melihat penampilan kakakku dengan pakaian seperti itu, dan yang membuatnya semakin terkejut adalah kakakku sedang menggenggam terong, yang cukup besar dan masih terlihat basah karena liur kakakku tadi. Aku yakin pemuda itu sedang berpikir yang tidak-tidak sekarang, mungkin dia berpikir kalau kakakku baru saja bermasturbasi dengan terong itu. Badanku jadi panas dingin, aku harap kak Ochi tidak diapa-apain.“Mas! Kok bengong sih?” kata kakakku menyadarkan pemuda itu.“Maaf, non,”“Liatin ini yah, mas? Gede ya, mas?” godanya sambil menunjukkan terong itu, pemuda itu jadi salah tingkah sendiri. Duh, jantungku semakin berdebar sampai mau copot.Untung saja kakakku tidak berbuat aneh-aneh lagi seperti mengajak pemuda itu masuk ke dalam rumah. Setelah kakakku menerima pizza dan membayarnya, pemuda itu langsung pergi. Kami pun makan siang setelah itu.***“Sekarang lanjut lagi yuk kak, yang tadi…” pintaku setelah makan siang.“Hihihi.. kamu ini, itu mulu yang kamu bilang. Udah kenyang emang kamu, dek?”“Udah, kak,”“Pengen bobok siang yah?” tanyanya.“Iya,”“Mau bareng?”“Mau,” jawabku semangat. Dia tertawa kecil mendengarnya.“Hahaha, iya-iya, yuk.. dasar kamunya,”Aku langsung menariknya ke kamar, aku masih saja penasaran dengan tubuhnya. Tadi itu masih belum cukup. Aku berharap mendapatkan lebih dari yang tadi. Kutelanjangi diriku sendiri dengan terburu-buru, tapi kulihat kak Ochi masih belum membuka satu pun pakaiannya.“Kak!” teriakku kesal, padahal aku sudah mupeng.“Apa sih? kan katanya mau tidur siang… ya udah bobo sana,” Duh, bikin kesal aja dianya. “Napa, dek?” tanyanya masih pura-pura tidak tahu. Sering amat sih dia kaya gini? Bikin kesal saja.“Hihihi.. iya-iya.. jangan ngambek gitu dong kamunya.. dasar,” akhirnya dia mulai membuka pakaiannya, dia kini telanjang lagi di hadapanku.“Inget, dek, gak boleh-”“Gak boleh gitu-gituan! Iya-iya tau!” potongku, dia tertawa kecil saja mendengarnya.“Yuk, dek.. ke ranjang,” ajaknya dengan nada mesra. Oke, aku takluk lagi olehnya, kesalku kini hilang. Dia naik dan berbaring di atas ranjang, aku juga menyusulnya dan langsung memeluk tubuh bugil kakakku.“Udah ngaceng yah kamunya?”Aku tidak menjawab pertanyaannya, tetap saja memeluk dan menggerayangi bagian-bagian tubuhnya. Aku juga kembali memainkan buah dadanya, mengulum dan menjilatinya sepuasnya.“Kak..” panggilku lirih tidak lama kemudian.“Hmm? Apa? udah mimik cucunya?”“Hehe, belum sih…”“Terus?”“Ngmmm... benar gak boleh ngentotin kakak?”“Ih, itu mulu yang kamu tanyain, gak boleh! Kebelet amat sih kamunya.. makanya kakak bilang cari pacar,” jawabnya sambil mencubit hidungku. “Sering yah kamu ngayal gitu-gituan sama kakak?”“Tiap coli, kak, hehehe..”“Hihihi, dasar porno… emang kamu suka ngayal gitu- ehm.. ngentotin kakak dalam posisi apa, dek?” tanyanya. Sepertinya dia penasaran dengan isi pikiran mesumku pada dirinya. Yang selalu menjadikannya bahan onani oleh adeknya sendiri.“Yang paling suka sih gaya dogi, kak, hehehe,” jawabku terus terang tanpa sungkan.“Hahahaha… dasar kamu. Terus waktu kamu coli suka ngayal apa lagi, dek? Apa sih fantasi paling mesummu tentang kakak?” tanyanya lagi.“Ngggg.. tapi kakak jangan marah ya?”“Gak bakal kok, ngomong aja dek... Cuma kakak doang kok yang dengar, hihihi…”“Aku suka ngayalin kalau kakak dientotin rame-rame sama pengemis, tukang bangunan, anak jalanan, pokoknya yang semacam itu deh kak… hehehe,”“Ckckck… Gila kamu, nakal amat sih khayalanmu, dek? Suka yah lihat kakak digituin orang? Untung cuma ada di khayalanmu doang, ogah deh kakak gitu-gituan sama mereka.”“Hehe.. iya, kak, cuma ngayal doang kok, aku juga gak tega kok kalau sampai beneran terjadi,” ujarku. Dia tersenyum manis saja mendengar semua khayalan mesumku pada dirinya itu, tentu saja sangat gila dan tidak mungkin terjadi, lebih tepatnya tidak boleh terjadi.“Eh, ngomong-ngomong kok makin nyelip aja burungmu ke paha kakak, geser-geser! Ngeganjel nih,” ujarnya mendorong tubuhku sambil memiringkan tubuhnya sendiri.“Nyelip ke paha doang kok, kak.. takut amat, hehehe,”Aku lalu mencium bibirnya lagi, kemudian saling mengulum dan membelit lidah satu sama lain sambil tanganku sibuk meremas buah dadanya. Hawa kamar ini kembali memanas, kami berguling-gulingan di atas ranjang, saling berciuman dan bercumbu. Cukup lama kami melakukan itu.“Dek…” dia menatap sayu padaku.“Ya, kak?”“Kalau kamu mau, boleh kok gesekin burungmu ke vagina kakak.” tawarnya. Aku terkejut, senang bukan main mendengarnya.“B-beneran boleh, kak?” tanyaku memastikan, dia menjawab dengan anggukan sambil tersenyum manis.“Tapi.. ingat, jangan sampai masuk yah… kakakmu ini beneran masih perawan. Kamu boleh berfantasi ria melampiaskan semua nafsumu ke kakak di atas ranjang kakak ini semaumu. Peluk, cium dan raba tubuh kakak sesukamu hari ini… tapi ingat harus kontrol diri kamunya,” katanya berbisik lirih.“I-iya, kak.. j-janji,” jawabku dengan dada yang begitu berdebar-debar.“Hihihi.. gak usah grogi, dek, kamu mau posisi apa? nungging kaya khayalanmu itu?” tanyanya menawarkan.“Boleh, kak.. hehehe,”Dengan senyum-senyum manis dia bangkit lalu mengambil posisi nungging, bertumpu dengan lutut dan lengannya. Jantungku makin berdetak kencang, darahku berdesir melihatnya.“Ayo, dek, genjotin kakakmu… dari belakang,” ucapnya sambil melirik menggoda, aku jadi menelan ludah karenanya. Dengan gemetaran kudekati dirinya, penisku yang tegang kudekatkan ke belahan vaginanya yang merekah lalu menggesek-gesekkannya disana. Gila sensasinya!“Selipin aja dek ke paha kakak kalau kamu mau,” suruhnya lagi sambil sedikit melebarkan pahanya.Kuselipkan penis tegangku di sana, membuat penisku jadi terjepit di antara paha putihnya yang mulus, tepat di bawah permukaan vaginanya. Perlahan aku mulai menggoyangkan pinggulku, menggesek-gesekkan penisku di sela-sela paha kakakku. Tanganku juga memegang pinggul kak Ochi. Kami seperti bersetubuh sekarang, fantasiku bersetubuh dengannya dengan posisi ini akhirnya terwujud, meskipun itu tidak benar-benar sampai masuk.“Nggmmmhh… enak, kak,” racauku, meski hanya seperti ini aku sudah bisa merasakan kenikmatan yang luar biasa, apalagi kalau penisku dijepit vaginanya.“Enak yah? Puas-puasin deh kamunya… gimana? Kayak ngentotin kakak kan? Udah kesampaian kan keinginan kamu ngentotin kakakmu? anggap aja udah yah… hihihi,”“Iya, kak.. makasih, hehehe.” jawabku sambil terus menggoyangkan pinggulku. Makin lama genjotanku semakin cepat, semakin sering juga penisku hampir masuk ke vaginanya. Tentu saja itu dirasakan oleh kak Ochi. Beberapa kali dia mengingatkanku agar hati-hati.“Kak..”“Iya, dek, apa? udah? Mau ganti posisi ya?”“Nggmm.. iya, kak,” jawabku.Aku lalu berbaring di bawah, dia berada di atasku menduduki penis tegangku. Kini dia yang megang kendali, meskipun begitu dia tetap tampak berhati-hati agar penisku tidak nyelip masuk ke vaginanya. Sambil dia menggoyangkan pinggulnya menggesek-gesekkan kelamin kami, aku meraba-raba paha mulusnya itu, sesekali aku juga meremas buah dadanya.Puas dengan posisi itu kami kembali bertukar posisi, kali ini dia berada di bawah ditindih olehku. Tetap sama seperti tadi, menggesek-gesekkan batang penisku pada permukaan vaginanya. Penisku sudah mulai mengeluarkan cairan bening, vaginanya juga terasa semakin basah, sepertinya dia juga terangsang.Penisku makin sering saja hampir nyelip masuk ke vaginanya, ujung kepala penisku hampir masuk melewati celah sempit itu, wajah kak Ochi sendiri terlihat cemas.“Dek!! Hampir nyelip itu!!”“Gak kok, kak, belum masuk kok.. hehehe,”“Apanya yang belum? Gak boleh!”Kuteruskan menggoyangkan pinggulku, menggesek-gesekkan penis tegangku di celah vaginanya sambil mulut kami saling berciuman. Hawa semakin panas, muka kami sudah sama-sama memerah, keringat betul-betul sudah bercucuran membasahi tubuhku dan kakakku ini, memberikan sensasi lengket saat kulit kami beradu. Kakakku tidak mempermasalahkan lagi penisku yang hampir-hampir masuk ke vaginanya, bahkan tertawa geli karenanya.“Dek, sampai nyelip, kakak hajar yah kamu… hihihi,”“Hehehe… biar deh kena hajar,”“Ih.. dasar porno! Ngebet banget nih kamu pengen ngentotin kakak sendiri,” katanya mencubit hidungku dan menarik-nariknya.“Masukin dikit yah, kak… kepalanya doang kok,” pintaku memelas. Kulihat dia tampak berpikir keras, wajahnya terlihat ragu dan bimbang. Aku tidak yakin apa yang sedang dipikirkannya. Mungkin dia juga penasaran bagaimana rasanya ditusuk penis, tapi mungkin dia juga takut kalau aku hilang kontrol sampai penisku menerobos vaginanya.“Janji deh, kak.. aku bisa kontrol diri kok… udah gak tahan nih, penasaran.” bujukku lagi.“Janji yah… cuma kepalanya aja!” setujunya.Dia membuka pahanya lebih lebar. Aku arahkan penisku tepat di belahan vaginanya yang sudah basah. Kutekan penisku perlahan-lahan hingga akhirnya kepala penisku masuk seluruhnya.“Sakit, dek… pelan-pelan aja,” erangnya sambil menggigit bibir. Pikiranku melayang tinggi saat ini. Sekarang aku sudah betul-betul menyetubuhinya, meskipun itu hanya kepala penisku saja yang masuk. Terasa kepala penisku menyentuh sesuatu di sana, sepertinya itu selaput daranya. Hanya satu hentakan saja, penisku akan memerawaninya. Dadaku jadi berdebar-debar.“Dek.. inget janjimu…” bisiknya lirih yang sepertinya tahu apa yang sedang kupikirkan.“I-iya, kak,”Kugoyangkan pinggulku maju mundur mengocok vaginanya. Kepala penisku hilang timbul di dalam sana. Meski hanya kepala penis, tapi sungguh nikmat luar biasa. Apalagi kak Ochi juga memeluk pinggangku, kakinya juga melingkar menjepit pahaku, seaakan tidak rela aku mencabut batang penisku dari dalam vaginanya. Kupikir aku tidak akan sanggup bertahan lama menerima kenikmatan ini.“Enak, dek?”“Enak banget, kak.. oughh…”“Hihihi… kepengen muncrat yah? Semprot aja dek vagina kakak,”“Nggghhh… iya, kak, gak boleh masuk lebih dalam, kak?”“Yee.. kakak gak perawan lagi dong. Ntar kalau kamu muncrat di dalam… kakak bisa hamil dong,” katanya mendesah. Degh, jantungku berdebar mendengarnya. Aku semakin tidak tahan.“Emang… kamu mau nikahin kakak?” godanya lagi, yang membuat aku semakin kelojotan saja. “Mau… ngebuntingin kakak kandungmu sendiri?”Aku tidak tahan lagi!! “Kaaaakkkk… arggghhh…”“Crooooott… crooooottt...” spermaku muncrat-muncrat dengan deras di vaginanya. Akhirnya aku kesampaian menyiram vagina kakakku dengan benihku, meskipun itu hanya di sekitar mulut vaginanya saja. Begitu banyak sampai berlumuran di sprei tempat tidurnya.“Udah, dek? Puas?” tanyanya, aku hanya mengangguk lemah kepuasan. Kami lalu berciuman sambil tetap kubiarkan kepala penisku masih di dalam vaginanya. Dia sepertinya lega aku tidak sampai memerawaninya.“Dek…”“Ya, kak?”“Tegang lagi tuh burungmu… baru muncrat juga,”“Hehehe… gak tau kak, kakak sih… cantik, seksi, trus rapet banget,” pujiku.“Gombal banget nih adek kakak.. dasar kamu!” katanya sambil tertawa kecil, aku juga ikutan tertawa.“Tapi, dek... cukup sekali tadi aja yah seperti itu. Terlalu beresiko. Untung saja tadi kamu masih bisa kontrol diri, tapi tadi itu udah benar-benar di batas kemampuanmu kan? Belum tentu kamu bisa seperti tadi lagi. Kalau nanti kamu hilang kontrol, dan masuk lebih dalam gimana ayo? Masa kakak diperawani sama adek sendiri? Kamu bisa ngertiin kakak kan?” ujarnya dengan wajah serius.Aku mengerti apa yang dia inginkan, dia hanya mau merelakan keperawanannya pada orang yang dia cintai, yakni suaminya kelak. Sungguh bejat kalau aku sampai merenggutnya.“Iya, kak, aku paham,” jawabku.“Hihihi… gitu baru adek kakak,” wajahnya terlihat riang lagi. Aku tidak tega menghilangkan keriangan itu dari wajahnya bila aku sampai memerawaninya.“Trus, mau dilanjutkan gak? Udah siap tempur lagi tuh burungmu.. hihihi,”“Boleh.. hehe,”“Mau coba dijepit di dada kakak?”Degh, titfuck? Favoritku saat nonton bokep! “M-mau, kak,” jawabku semangat.Aku melanjutkannya lagi, aku lalu duduk mengangkangi tubuhnya. Kali ini penisku dijepit di belahan payudaranya. Sungguh terasa sangat nikmat bagaimana penisku diselimuti buah dada kak Ochi yang lembut dan kenyal. Kugoyangkan pinggulku seolah sedang mengentoti buah dadanya, hingga akhirnya aku sampai dan menyemprotkan spermaku di mulut kak Ochi. Dia berusaha menelannya demi memuaskan fantasiku, tapi dia yang belum terbiasa hanya mampu menelan sedikit saja.Kami menghabiskan sebagian besar sisa hari itu di dalam kamarnya. Tanpa terasa hari ini sudah akan berakhir. Sebuah hari yang tidak akan pernah aku lupakan. Malam itu aku juga tidur di kamarnya, dan sekali lagi sebelum tidur aku muncrat lagi, kembali menembakkan pejuku di wajahnya.Aku beruntung Kak Ochi masih mau membantuku onani pada hari-hari setelah ini, tapi hanya sekedar itu, tidak sampai mengulangi nyelip-nyelip penis seperti tadi. Ya… pada akhirnya aku tidak memerawani kakakku juga. Aku rasa memang itu yang terbaik. Biarlah orang yang sepantasnya yang mendapatkannya kelak.***Waktu terus berlalu, kakakku akhirnya tamat dari kuliahnya dan berkerja di salah satu perusahaan swasta. Kami masih tinggal di kontrakan yang sama, dan kampretnya teman-temanku sampai sekarang masih juga cari-cari kesempatan dengan kakakku. Kalau mereka beruntung mereka dapat melihat kakakku yang hanya berbalut handuk ketika selesai mandi, atau mungkin yang paling parah melihat tubuh bugil kakakku. Tapi untung saja tidak lebih dari sekedar melihat, sepertinya sih.Seiring berjalannya waktu aku sudah mulai jarang meminta dionanikan sama kakakku karena aku juga sudah punya pacar sekarang, tapi entah kenapa aku malah tidak ingin merenggut keperawanan pacarku ini. Hubungan aku dan pacarku paling jauh cuma raba-raba dan ciuman saja. Sepertinya ini efek dari hubungan aku dan kakakku.Hanya setahun Kak Ochi bekerja, dia kemudian menikah dengan pujaan hatinya. Seorang pria yang terlihat sangat cocok dan pantas baginya. Pria yang akhirnya mendapatkan keperawanan kakakku. Aku ikut senang, sekaligus sedih. Entah kenapa aku merasa kehilangan sosoknya, orang yang aku cintai kini dimiliki orang lain. Terlebih setelah dia menikah aku tidak pernah melihatnya lagi karena dia ikut suaminya.Dulu, kami tinggal serumah, pernah tidur seranjang, bahkan mandi bersama. Aku sampai tersenyum kecil mengingat hal-hal mesum yang dia lakukan demi memuaskan fantasiku. Kini semua tidak ada lagi, dan memang sebaiknya seperti itu.“Kring-kring-kring,” Ponselku berbunyi, sebuah panggilan masuk. Kulihat nama pemanggilnya, Kak Ochi! Sudah lama juga kami tidak teleponan.“Halo,” jawabku.“Halo, dek… Apa kabar? Udah makan belom?”“Baik, kak. Udah kok, kak…”Aku senang bisa mendengar suaranya lagi, begitu menenangkan hatiku. Tapi tidak jarang juga suaranya itu dulu pernah membuat aku begitu horni.“Enakan mana dari buatan kakak?”“Enakan buatan kakak dong pastinya…”Tentu saja. Aku sangat rindu masakan buatannya, lebih dari itu, aku juga merindukan sosoknya. Ya… Begitu merindukannya… kakakku yang cantik dan seksi ini. Kakakku yang aku sayangi dan cintai.“Hihihi… makasih deh… Trus masih sering ngayal kakak waktu onani gak nih kamunya?”“Sesekali, kak, hehehe… Lebaran besok pulang, kak?”“Sepertinya sih iya dek, napa? Kangen? Pengen onani di depan kakak lagi? Atau... mau gitu-gituan sama kakak? Boleh…”“B-beneran, kak?”“Hihihi, Ber-can-da kok,”Tapi dia tetap tidak berubah, selalu menggodaku dengan omongan nakalnya. Sial. Lanjutkan

Share This Post :

Kumpulan Video sex

Video Sex - Tempat download video sex terlengkap di communitysex.net Ingin Nonton video sex tinggal klik di bawah ini

Video Sex

Diberdayakan oleh Blogger.

Arsip Blog

 
Copyright © 2015 Kumpulan Video sex , xxx , komik , hentai,. All Rights Reserved
Template Johny Wuss Responsive by Creating Website and CB Design