Home » » BERCINTA SEKS DENGAN TUKANG PIJAT PUAS ENAK DAN CAPEK

BERCINTA SEKS DENGAN TUKANG PIJAT PUAS ENAK DAN CAPEK

Posted by eko prijambodo
Kumpulan Video sex , xxx , komik , hentai,, Updated at: 07.06

Posted by eko prijambodo on Jumat, 03 Juli 2015

Sebuah kisah bercinta atau ngentot (ML) dengan pekerjasalon (terapis) yang mana menyediakan jasa pijat danlalu karena nafsu berakhir dengan hubungan seks. Simakkisah lengkapnya berikut ini!Jakarta yang panas membuatku kegerahan di atasangkot. Kantorku tidak lama lagi kelihatan di kelokandepan, kurang lebih 100 meter lagi. Tetapi aku masihbetah di atas mobil ini. Angin menerobos dari jendela.Masih ada waktu bebas dua jam. Kerjaan hari ini sudahkugarap semalam. Daripada suntuk diam di rumah, tadimalam aku menyelesaikan kerjaan yang masihmenumpuk. Kerjaan yang menumpuk samamerangsangnya dengan seorang wanita dewasa yangkeringatan di lehernya, yang aroma tubuhnya tercium.Aroma asli seorang wanita. Baunya memang agak lain,tetapi mampu membuat seorang bujang menerawanghingga jauh ke alam yang belum pernah ia rasakan.“Dik.., jangan dibuka lebar. Saya bisa masuk angin.” kataseorang wanita setengah baya di depanku pelan.Aku tersentak. Masih melongo.“Itu jendelanya dirapetin dikit..,” katanya lagi.“Ini..?” kataku.“Ya itu.”Ya ampun, aku membayangkan suara itu berbisik ditelingaku di atas ranjang yang putih. Keringatnyameleleh seperti yang kulihat sekarang. Napasnyatersengal. Seperti kulihat ketika ia baru naik tadi,setelah mengejar angkot ini sekadar untuk dapat secuiltempat duduk.“Terima kasih,” ujarnya ringan.Aku sebetulnya ingin ada sesuatu yang bisa diomongkanlagi, sehingga tidak perlu curi-curi pandang meliriklehernya, dadanya yang terbuka cukup lebar sehinggaterlihat garis bukitnya.“Saya juga tidak suka angin kencang-kencang. Tapi sayagerah.” meloncat begitu saja kata-kata itu.Aku belum pernah berani bicara begini, di angkotdengan seorang wanita, separuh baya lagi. Kalau kiniaku berani pasti karena dadanya terbuka, pasti karenapeluhnya yang membasahi leher, pasti karena akuterlalu terbuai lamunan. Ia malah melengos. Sial. Laluasyik membuka tabloid. Sial. Aku tidak dapat lagimemandanginya.Kantorku sudah terlewat. Aku masih di atas angkot.Perempuan paruh baya itu pun masih duduk di depanku.Masih menutupi diri dengan tabloid. Tidak lama wanitaitu mengetuk langit-langit mobil. Sopir menepikankendaraan persis di depan sebuah salon. Aku perhatikania sejak bangkit hingga turun. Mobil bergerak pelan, akumasih melihat ke arahnya, untuk memastikan ke manaarah wanita yang berkeringat di lehernya itu. Iatersenyum. Menantang dengan mata genit sambilmendekati pintu salon. Ia kerja di sana? Atau maugunting? Creambath? Atau apalah? Matanyadikerlingkan, bersamaan masuknya mobil lain dibelakang angkot. Sial. Dadaku tiba-tiba berdegup-degup.“Bang, Bang kiri Bang..!”Semua penumpang menoleh ke arahku. Apakah suarakumengganggu ketenangan mereka?“Pelan-pelan suaranya kan bisa Dek,” sang supirmenggerutu sambil memberikan kembalian.Aku membalik arah lalu berjalan cepat, penuh semangat.Satu dua, satu dua. Yes.., akhirnya. Namun, tiba-tibakeberanianku hilang. Apa katanya nanti? Apa yang akuharus bilang, lho tadi kedip-kedipin mata, maksudnyaapa? Mendadak jari tanganku dingin semua. Wajahkumerah padam. Lho, salon kan tempat umum. Semuaorang bebas masuk asal punya uang. Bodoh amat. Comeon lets go! Langkahku semangat lagi. Pintu salonkubuka.“Selamat siang Mas,” kata seorang penjaga salon,“Potong, creambath, facial atau massage (pijit)..?”“Massage, boleh.” ujarku sekenanya.Aku dibimbing ke sebuah ruangan. Ada sekat-sekat,tidak tertutup sepenuhnya. Tetapi sejak tadi aku tidakmelihat wanita yang lehernya berkeringat yang tadimengerlingkan mata ke arahku. Ke mana ia? Ataujangan-jangan ia tidak masuk ke salon ini, hanya pura-pura masuk. Ah. Shit! Aku tertipu. Tapi tidak apa-apatoh tipuan ini membimbingku ke ‘alam’ lain.Dulu aku paling anti masuk salon. Kalau potong rambutya masuk ke tukang pangkas di pasar. Ah.., wanita yanglehernya berkeringat itu begitu besar mengubahkeberanianku.“Buka bajunya, celananya juga,” ujar wanita tadi manjamenggoda, “Nih pake celana ini..!”Aku disodorkan celana pantai tapi lebih pendek lagi.Bahannya tipis, tapi baunya harum. Garis setrikaannyamasih terlihat. Aku menurut saja. Membuka celanaku danbajuku lalu gantung di kapstok. Ada dipan kecilpanjangnya dua meter, lebarnya hanya muat tubuhkudan lebih sedikit. Wanita muda itu sudah keluar sejakmelempar celana pijit. Aku tiduran sambil baca majalahyang tergeletak di rak samping tempat tidur kecil itu.Sekenanya saja kubuka halaman majalah.“Tunggu ya..!” ujar wanita tadi dari jauh, lalu pergi kebalik ruangan ke meja depan ketika ia menerimakedatanganku.“Mbak Wien.., udah ada pasien tuh,” ujarnya dari ruangsebelah. Aku jelas mendengarnya dari sini.Kembali ruangan sepi. Hanya suara kebetan majalahyang kubuka cepat yang terdengar selebihnya musiklembut yang mengalun dari speaker yang ditanam dilangit-langit ruangan.Langkah sepatu hak tinggi terdengar, pletak-pletok-pletok. Makin lama makin jelas. Dadaku mulai berdeguplagi. Wajahku mulai panas. Jari tangan mulai dingin. Akumakin membenamkan wajah di atas tulisan majalah.“Halo..!” suara itu mengagetkanku. Hah..? Suara itu lagi.Suara yang kukenal, itu kan suara yang meminta akumenutup kaca angkot. Dadaku berguncang. Haruskahkujawab sapaan itu? Oh.., aku hanya dapat menunduk,melihat kakinya yang bergerak ke sana ke mari diruangan sempit itu. Betisnya mulus ditumbuhi bulu-buluhalus. Aku masih ingat sepatunya tadi di angkot. Hitam.Aku tidak ingat motifnya, hanya ingat warnanya.“Mau dipijat atau mau baca,” ujarnya ramah mengambilmajalah dari hadapanku, “Ayo tengkurep..!”Tangannya mulai mengoleskan cream ke ataspunggungku. Aku tersetrum. Tangannya halus. Dingin.Aku kegelian menikmati tangannya yang menari di ataskulit punggung. Lalu pijitan turun ke bawah. Iamenurunkan sedikit tali kolor sehingga pinggulkutersentuh. Ia menekan-nekan agak kuat. Aku meringismenahan sensasasi yang waow..! Kini ia pindah ke paha,agak berani ia masuk sedikit ke selangkangan. Akumeringis merasai sentuhan kulit jarinya. Tapi belumbegitu lama ia pindah ke betis.“Balik badannya..!” pintanya.Aku membalikkan badanku. Lalu ia mengolesi dadakudengan cream. Pijitan turun ke perut. Aku tidak beranimenatap wajahnya. Aku memandang ke arah lainmengindari adu tatap. Ia tidak bercerita apa-apa. Akupun segan memulai cerita. Dipijat seperti ini lebihnikmat diam meresapi remasan, sentuhan kulitnya.Bagiku itu sudah jauh lebih nikmat daripada bercerita.Dari perut turun ke paha. Ah.., selangkanganku disentuhlagi, diremas, lalu ia menjamah betisku, dan selesai.Ia berlalu ke ruangan sebelah setelah membereskancream. Aku hanya ditinggali handuk kecil hangat. Kuusapsisa cream. Dan kubuka celana pantai. Astaga. Adacairan putih di celana dalamku.Di kantor, aku masih terbayang-bayang wanita yang dilehernya ada keringat. Masih terasa tangannya dipunggung, dada, perut, paha. Aku tidak tahan. Esoknya,dari rumah kuitung-itung waktu. Agar kejadian kemarinterulang. Jam berapa aku berangkat. Jam berapa harussampai di Ciledug, jam berapa harus naik angkot yangpenuh gelora itu. Ah sial. Aku terlambat setengah jam.Padahal, wajah wanita setengah baya yang di lehernyaada keringat sudah terbayang. Ini gara-gara ibukumenyuruh pergi ke rumah Tante Wanti. Bayar arisan.Tidak apalah hari ini tidak ketemu. Toh masih ada hariesok.Aku bergegas naik angkot yang melintas. Toh, sisetengah baya itu pasti sudah lebih dulu tiba disalonnya. Aku duduk di belakang, tempat favorit.Jendela kubuka. Mobil melaju. Angin meneroboskencang hingga seseorang yang membaca tabloidmenutupi wajahnya terganggu.“Mas Tut..” hah..? suara itu lagi, suara wanita setengahbaya yang kali ini karena mendung tidak lagi adakeringat di lehernya. Ia tidak melanjutkan kalimatnya.Aku tersenyum. Ia tidak membalas tapi lebih ramah.Tidak pasang wajah perangnya.“Kayak kemarinlah..,” ujarnya sambil mengangkat tabloidmenutupi wajahnya.Begitu kebetulankah ini? Keberuntungankah? Ataukesialan, karena ia masih mengangkat tabloid menutupiwajah? Aku kira aku sudah terlambat untuk bisa satuangkot dengannya. Atau jangan-jangan ia juga disuruhibunya bayar arisan. Aku menyesal mengutuk ibu ketikapergi. Paling tidak ada untungnya juga ibu menyuruhbayar arisan.“Mbak Wien..,” gumamku dalam hati.Perlu tidak ya kutegur? Lalu ngomong apa? Lha wongMbak Wien menutupi wajahnya begitu. Itu artinya iatidak mau diganggu. Mbak Wien sudah turun. Aku masihtermangu. Turun tidak, turun tidak, aku hitung kancing.Dari atas: Turun. Ke bawah: Tidak. Ke bawah lagi: Turun.Ke bawah lagi: Tidak. Ke bawah lagi: Turun. Ke bawahlagi: Tidak. Ke bawah lagi: Hah habis kancingku habis.Mengapa kancing baju cuma tujuh?Hah, aku ada ide: toh masih ada kancing di bagianlengan, kalau belum cukup kancing Bapak-bapak disebelahku juga bisa. Begini saja daripada repot-repot.Anggap saja tiap-tiap baju sama dengan jumlah kancingbajuku: Tujuh. Sekarang hitung penumpang angkot dansupir. Penumpang lima lalu supir, jadi enam kali tujuh,42 hore aku turun. Tapi eh.., seorang penumpang pakaikaos oblong, mati aku. Ah masa bodo. Pokoknya turun.“Kiri Bang..!”Aku lalu menuju salon. Alamak.., jauhnya. Aku lupakelamaan menghitung kancing. Ya tidak apa-apa,hitung-hitung olahraga. Hap. Hap.“Mau pijit lagi..?” ujar suara wanita muda yang kemarinmenuntunku menuju ruang pijat.“Ya.”Lalu aku menuju ruang yang kemarin. Sekarang sudahlebih lancar. Aku tahu di mana ruangannya. Tidak perludiantar. Wanita muda itu mengikuti di belakang.Kemudian menyerahkan celana pantai.“Mbak Wien, pasien menunggu,” katanya.Majalah lagi, ah tidak aku harus bicara padanya. Bicaraapa? Ah apa saja. Masak tidak ada yang bisadibicarakan. Suara pletak-pletok mendekat.“Ayo tengkurap..!” kata wanita setengah baya itu.Aku tengkurap. Ia memulai pijitan. Kali ini lebihbertenaga dan aku memang benar-benar pegal,sehingga terbuai pijitannya.“Telentang..!” katanya.Kuputuskan untuk berani menatap wajahnya. Palingtidak aku dapat melihat leher yang basah keringatkarena kepayahan memijat. Ia cukup lama bermain-maindi perut. Sesekali tangannya nakal menelusup ke bagiantepi celana dalam. Tapi belum tersentuh kepala juniorku.Sekali. Kedua kali ia memasukkan jari tangannya. Iamenyenggol kepala juniorku. Ia masih dingin tanpaekspresi. Lalu pindah ke pangkal paha. Ah mengapabegitu cepat.Jarinya mengelus tiap mili pahaku. Si Junior sudahmengeras. Betul-betul keras. Aku masih penasaran, iaseperti tanpa ekspresi. Tetapi eh.., diam-diam iamencuri pandang ke arah juniorku. Lama sekali iamemijati pangkal pahaku. Seakan sengaja memainkan SiJunior. Ketika Si Junior melemah ia seperti tahubagaimana menghidupkannya, memijat tepat di bagianpangkal paha. Lalu ia memijat lutut. Si Junior melemah.Lalu ia kembali memijat pangkal pahaku. Ah sialan. Akudipermainkan seperti anak bayi.Selesai dipijat ia tidak meninggalkan aku. Tapi mengelapdengan handuk hangat sisa-sisa cream pijit yang masihmenempel di tubuhku. Aku duduk di tepi dipan. Iamembersihkan punggungku dengan handuk hangat.Ketika menjangkau pantatku ia agak mendekat. Bautubuhnya tercium. Bau tubuh wanita setengah bayayang yang meleleh oleh keringat. Aku pertegas bahwaaku mengendus kuat-kuat aroma itu. Ia tersenyumramah. Eh bisa juga wanita setengah baya ini ramahkepadaku.Lalu ia membersihkan pahaku sebelah kiri, ke pangkalpaha. Junior berdenyut-denyut. Sengaja kuperlihatkanagar ia dapat melihatnya. Di balik kain tipis, celanapantai ini ia sebetulnya bisa melihat arah turun naik SiJunior. Kini pindah ke paha sebelah kanan. Ia tepatberada di tengah-tengah. Aku tidak menjepit tubuhnya.Tapi kakiku saja yang seperti memagari tubuhnya. Akumembayangkan dapat menjepitnya di sini. Tetapi,bayangan itu terganggu. Terganggu wanita muda yang diruang sebelah yang kadang-kadang tanpa tujuan jelasbolak-balik ke ruang pijat.Dari jarak yang begitu dekat ini, aku jelas melihatwajahnya. Tidak terlalu ayu. Hidungnya tidak mancungtetapi juga tidak pesek. Bibirnya sedang tidak terlalusensual. Nafasnya tercium hidungku. Ah segar. Payudaraitu dari jarak yang cukup dekat jelas membayang.Cukuplah kalau tanganku menyergapnya. Ia terusmengelap pahaku. Dari jarak yang dekat ini hawa panastubuhnya terasa. Tapi ia dingin sekali. Membuatku tidakberani. Ciut. Si Junior tiba-tiba juga ikut-ikutan ciut.Tetapi, aku harus berani. Toh ia sudah seperti pasrahberada di dekapan kakiku.Aku harus, harus, harus..! Apakah perlu menhitungkancing. Aku tidak berpakaian kini. Lagi pula percuma,tadi saja di angkot aku kalah lawan kancing. Aku harusmemulai. Lihatlah, masak ia begitu berani tadimenyentuh kepala Junior saat memijat perut. Ah, kini iamalah berlutut seperti menunggu satu kata saja dariku.Ia berlutut mengelap paha bagian belakang. Kakikusandarkan di tembok yang membuat ia bebasberlama-lama membersihkan bagian belakang pahaku.Mulutnya persis di depan Junior hanya beberapa jari.Inilah kesempatan itu. Kesempatan tidak akan datangdua kali. Ayo. Tunggu apa lagi. Ayo cepat ia hampirselesai membersihkan belakang paha. Ayo..!Aku masih diam saja. Sampai ia selesai mengelap bagianbelakang pahaku dan berdiri. Ah bodoh. Benarkankesempatan itu lewat. Ia sudah membereskan peralatanpijat. Tapi sebelum berlalu masih sempat melihatkusekilas. Betulkan, ia tidak akan datang begitu saja.Badannya berbalik lalu melangkah. Pletak, pletok,sepatunya berbunyi memecah sunyi. Makin lama suarasepatu itu seperti mengutukku bukan berbunyi pletakpelok lagi, tapi bodoh, bodoh, bodoh sampai suara ituhilang.Aku hanya mendengus. Membuang napas. Sudahlah.Masih ada esok. Tetapi tidak lama, suara pletak-pletokterdengar semakin nyaring. Dari iramanya bukan sedangberjalan. Tetapi berlari. Bodoh, bodoh, bodoh. Eh..,kesempatan, kesempatan, kesempatan. Aku masihmematung. Duduk di tepi dipan. Kaki disandarkan didinding. Ia tersenyum melihatku.“Maaf Mas, sapu tangan saya ketinggalan,” katanya.Ia mencari-cari. Di mana? Aku masih mematung. Kulihatdi bawahku ada kain, ya seperti saputangan.“Itu kali Mbak,” kataku datar dan tanpa tekanan.Ia berjongkok persis di depanku, seperti ketika iamembersihkan paha bagian bawah. Ini kesempatankedua. Tidak akan hadir kesempatan ketiga. Lihatlah iatadi begitu teliti membenahi semua perlatannya. Apalagiyang dapat tertinggal? Mungkin sapu tangan ini sajasuatu kealpaan. Ya, seseorang toh dapat saja lupa padasesuatu, juga pada sapu tangan. Karena itulah, tidakakan hadir kesempatan ketiga. Ayo..!“Mbak.., pahaku masih sakit nih..!” kataku memelas, yasebagai alasan juga mengapa aku masih bertahan dudukdi tepi dipan.Ia berjongkok mengambil sapu tangan. Lalu memegangpahaku, “Yang mana..?”Yes..! Aku berhasil. “Ini..,” kutunjuk pangkal pahaku.“Besok saja Sayang..!” ujarnya.Ia hanya mengelus tanpa tenaga. Tapi ia masihberjongkok di bawahku.“Yang ini atau yang itu..?” katanya menggoda, menunjukJuniorku.Darahku mendesir. Juniorku tegang seperti mainananak-anak yang dituip melembung. Keras sekali.“Jangan cuma ditunjuk dong, dipegang boleh.”Ia berdiri. Lalu menyentuh Junior dengan sisi luar jaritangannya. Yes. Aku bisa dapatkan ia, wanita setengahbaya yang meleleh keringatnya di angkot karenakepanasan. Ia menyentuhnya. Kali ini dengan telapaktangan. Tapi masih terhalang kain celana. Hangatnya,biar begitu, tetap terasa. Aku menggelepar.“Sst..! Jangan di sini..!” katanya.Kini ia tidak malu-malu lagi menyelinapkan jemarinya kedalam celana dalamku. Lalu dikocok-kocok sebentar.Aku memegang teteknya. Bibirku melumat bibirnya.“Jangan di sini Sayang..!” katanya manja lalu melepaskansergapanku.“Masih sepi ini..!” kataku makin berani.Kemudian aku merangkulnya lagi, menyiuminya lagi. Iamenikmati, tangannya mengocok Junior.“Besar ya..?” ujarnya.Aku makin bersemangat, makin membara, makinterbakar. Wanita setengah baya itu merenggangkanbibirnya, ia terengah-engah, ia menikmati dengan mataterpejam.“Mbak Wien telepon..,” suara wanita muda dari ruangsebelah menyalak, seperti bel dalam pertarungan tinju.Mbak Wien merapihkan pakaiannya lalu pergi menjawabtelepon.“Ngapaian sih di situ..?” katanya lagi seperti iri padaWien.Aku mengambil pakaianku. Baru saja aku memasang ikatpinggang, Wien menghampiriku sambil berkata,“Telepon aku ya..!”Ia menyerahkan nomor telepon di atas kertas putih yangdisobek sekenanya. Pasti terburu-buru. Aku langsungmemasukkan ke saku baju tanpa mencermati nomor-nomornya. Nampak ada perubahan besar pada Wien. Iatidak lagi dingin dan ketus. Kalau saja, tidak keburuwanita yang menjaga telepon datang, ia sudah melumatSi Junior. Lihat saja ia sudah separuh berlutut mengarahpada Junior. Untung ada tissue yang tercecer, sehinggaada alasan buat Wien.Ia mengambil tissue itu, sambil mendengar kabargembira dari wanita yang menunggu telepon. Ia hanyamenampakkan diri separuh badan.“Mbak Wien.., aku mau makan dulu. Jagain sebentarya..!”Ya itulah kabar gembira, karena Wien lalu mengangguk.Setelah mengunci salon, Wien kembali ke tempatku. Hariitu memang masih pagi, baru pukul 11.00 siang, belumada yang datang, baru aku saja. Aku menanti dengandebaran jantung yang membuncah-buncah. Wiendatang. Kami seperti tidak ingin membuang waktu,melepas pakaian masing-masing lalu memulaipergumulan.Wien menjilatiku dari ujung rambut sampai ujung kaki.Aku menikmati kelincahan lidah wanita setengah bayayang tahu di mana titik-titik yang harus dituju. Akuterpejam menahan air mani yang sudah di ujung.Bergantian Wien kini telentang.“Pijit saya Mas..!” katanya melenguh.Kujilati payudaranya, ia melenguh. Lalu vaginanya, basahsekali. Ia membuncah ketika aku melumat klitorisnya.Lalu mengangkang.“Aku sudah tak tahan, ayo dong..!” ujarnya merajuk.Saat kusorongkan Junior menuju vaginanya, ia melenguhlagi.“Ah.. Sudah tiga tahun, benda ini tak kurasakan Sayang.Aku hanya main dengan tangan. Kadang-kadangketimun. Jangan dimasukkan dulu Sayang, aku belumsiap. Ya sekarang..!” pintanya penuh manja.Tetapi mendadak bunyi telepon di ruang depanberdering. Kring..! Aku mengurungkan niatku. Kring..!“Mbak Wien, telepon.” kataku.Ia berjalan menuju ruang telepon di sebelah. Akumengikutinya. Sambil menjawab telepon di kursi iamenunggingkan pantatnya.“Ya sekarang Sayang..!” katanya.“Halo..?” katanya sedikit terengah.“Oh ya. Ya nggak apa-apa,” katanya menjawab telepon.“Siapa Mbak..?” kataku sambil menancapkan Junioramblas seluruhnya.“Si Nina, yang tadi. Dia mau pulang dulu ngeliat orangtuanya sakit katanya sih begitu,” kata Wien.Setelah beberapa lama menyodoknya, “Terus dong Yang.Auhh aku mau keluar ah.., Yang tolloong..!” diamendesah keras.Lalu ia bangkit dan pergi secepatnya.“Yang.., cepat-cepat berkemas. Sebantar lagi MbakMona yang punya salon ini datang, biasanya jam seginidia datang.”Aku langsung beres-beres dan pulang. Lanjutkan

Share This Post :

Kumpulan Video sex

Video Sex - Tempat download video sex terlengkap di communitysex.net Ingin Nonton video sex tinggal klik di bawah ini

Video Sex

Diberdayakan oleh Blogger.

Arsip Blog

 
Copyright © 2015 Kumpulan Video sex , xxx , komik , hentai,. All Rights Reserved
Template Johny Wuss Responsive by Creating Website and CB Design